Minggu, 15 Maret 2009

Biografi setengah hati Asy syahid Imam Samudra


BARA DENDAM DALAM DENTUMAN ZIGOYAR
________________________________________
Di penjara, Imam Samudra menulis memoar. Amerika menjadi musuh abadi. Inilah sebagian kutipan memoar terpidana mati.
Tangismu wahai bayi-bayi tanpa kepala dibentur di tembok-tembokPalestina…
 Jeritmu wahai bayi-bayiAfghanistan yang memanggil-manggilku tanpa lengan…
dieksekusi bom-bom jahanam… Milik setan amerika… 

Dari balik tembok penjara Kerobokan, Bali, Imam Samudra mencatatkan kenangannya tentang apa yang disebutnya sebagai jihad. Lewat buku tulis setebal 200 halaman, sejumlah peristiwa dalam hidupnya berkelebat, dengan tulisan tangan impresif. Inilah memoar yang ditulis dengan huruf kecil dengan keyakinan yang teguh, "Untuk menghemat halaman," ujarnya saat dibesuk TEMPO, akhir September silam. Sejumlah tulisan itu diberinya tanggal, tapi banyak juga yang tidak. Imam, sang terpidana mati kasus bom Bali, menyebut karyanya sebagai Biografi (Setengah Hati).
Setengah hati? Simaklah alasan dia, yang dipetik dari buku itu: "Aku paling tidak suka mengisi buku diary, yang biasanya meminta biodata, kata mutiara, dsb, dsb," demikian ia menulis. Apalagi, kata dia, sejak terlibat dalam "perjuangan menegakkan kalimat Allah", dia merasa wajib menjunjung tinggi kerahasiaan. Meski begitu, sebagian sejarah itu tetap dia tulis dengan satu prinsip: "menghindari hal-hal yang membatalkan pahala". Walhasil, jadilah buku itu penuh kelebatan pikiran, kenangan, dan tak lupa, petikan Al-Quran dan hadis.
"Aku lahir di Desa Lopang Gede, Banten, 14 Januari 1970," demikian ditulisnya di bagian yang diberi anak judul Childhood, satu fragmen dalam tulisan bertajuk Biografi (Setengah Hati) itu. Lahir dengan nama Abdul Aziz, Imam kecil tumbuh dalam keluarga pedagang. Dia mengingat secara detail saat duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah Al-Khairiyah, Serang. "Sekolah agama yang tak terlalu ketat, dengan meja-meja yang telah dimakan rayap," Imam menulis. Saat di bangku sekolah dasar, dia pernah menjadi siswa teladan dan memenangi cerdas cermat P-4.
Dia juga mengisahkan masa remajanya, di SMP maupun SMA, yang ditempuh dalam "keadaan sekuler". Di bangku SMP, Imam punya prestasi cemerlang, masuk peringkat tiga besar tingkat kabupaten. Tapi, Imam sendiri tak begitu suka dengan suasana sekolah seperti itu. Dia lebih suka menyendiri, membaca buku di perpustakaan. "Aku lebih tertarik dengan ensiklopedia bergambar tentang alam semesta. Satu-satunya novel yang kubaca Di Bawah Lindungan Ka'bah karya Buya Hamka.
Pergulatannya soal agama mulai tumbuh. "Pohon pinus dan bangau, penetrasi sinar matahari. Salju di puncak gunung, indah subhanallah," tulisnya tentang satu lukisan di kamar belajar sewaktu Imam masih duduk di bangku SMP Negeri 4 Serang, Banten. "Di sebelah lukisan itu, ada rumus-rumus yang membosankan. Di bawah rumus-rumus itu ada tumpukan buku, di antara buku-buku itu ada sebuah buku Aayaturahman Fie Jihadil Afghanistan (Tanda-Tanda Kekuasaan Allah dalam Jihad di Afghanistan) oleh Dr. Abdullah Azzam." Azzam adalah doktor fikih jebolan Universitas Al-Azhar, Mesir. Dia kelahiran Palestina, namun bergabung dengan mujahidin di Afghanistan. Azzam tewas akibat serangan bom di Peshawar pada 1989.
Karya Azzam membangkitkan semangat jihad luar biasa. Imam menulis: "Mereka yang sempat membaca buku itu, insya Allah, akan tergerak hatinya untuk berangkat jihad, angkat senjata ke Afghanistan. Tapi waktu itu umurku baru 16 tahun, baru bisa membayangkan, menghayati, dan kemudian melamun."
Sejak membaca "buku ajaib" itu, kata Imam, dia selalu berdoa agar Allah memberinya kesempatan untuk bergabung dengan para mujahidin di Afghanistan. "Sejak itu pula aku berhenti menonton televisi dan mendengar musik. Dan saat itu juga aku menjadi semacam 'introvert'," demikian dia tulis. "Intifadah di Palestina dan jihad di Afghanistan membuat diriku benar-benar gerah dan gundah."
Potongan puisi di atas, misalnya adalah ungkapan kegalauan Imam atas nasib kaum muslimin di Palestina dan Afghanistan. Di bagian lain buku itu, pada tulisan bertajuk Biar pun Terluka di Mata Sejarah, Afghanistan adalah sebongkah duka yang berlarat-larat. "Sampai saat buku ini kutulis, aku sama sekali tidak dapat melupakan image yang terlanjur kuat melekat dalam memori benakku. Saat aku surfing di dalam lautan internet, kutemukan gambar bayi-bayi tanpa kepala dan tangan yang rusak akibat kebrutalan pasukan salibis Amerika dan sekutunya saat membombardir Afghanistan pada Ramadan 2001...."
Kedukaan itu terus merasuk dari layar maya. "Image itu hanya berupa foto dari kejadian asli yang kemudian di scan, dimasukkan ke komputer, lalu diupload ke alam Internet. Memang mati, tanpa suara, bisu. Tapi roh kesakitan dan derita mereka telah menempati rongga hatiku, menampang kepedihan dari ayah-bunda mereka. Aku meyakini akan adanya telepati. Dengan kehendak Allah, aku benar-benar merasakan kepedihan-kepedihan dan kesakitan demi kesakitan yang mereka alami."
Kesakitan itulah yang lalu menuntunnya ke Afghanistan, sebuah negeri yang saat itu riuh oleh pertempuran kaum mujahidin melawan pendudukan Rusia di sana. Afghanistan begitu jauh dari kampungnya di Serang, Banten. Dalam coretan berjudul Saat Salju Tiba dan Rindu pun Menjelma, Imam mengisahkan bagaimana hidupnya berubah sejak mengenal jihad.
Begitu lulus Madrasah Aliyah Negeri Cikulur, Serang, pada 1990, Imam pun menuju Jakarta. Di Masjid Al-Furqan, Jalan Kramat Raya 45, Jakarta, cita-cita itu menemukan jalan. Di sana, dia bertemu Jabir (Jabir kelak tewas saat merakit bom untuk aksi malam Natal Desember 2000, di Bandung -Red). Setelah berbincang seputar soal jihad, melihat kesungguhan Imam, Jabir menawari anak Serang itu berangkat ke Afghanistan.
Bukan main senangnya Imam. Setelah pamit ke orang tuanya di Serang dan mengumpulkan sejumlah uang, antara lain dari honornya menulis artikel di majalah Panji Masyarakat, akhirnya dia mengurus paspor ke Jakarta. Dalam pekan itu pula, Jabir dan Imam menuju Dumai, Sumatera Selatan. Tujuan mereka: Melaka (Malaysia). "Dumai-Melaka terkenal sebagai 'jalur-TKI' (tenaga kerja Indonesia)," kenangnya.
Lolos pemeriksaan di imigrasi, dia menuju Bandara Subang Jaya, Selangor, Darul Ehsan, Malaysia. "Begitu pesawat MAS (Malaysian Air System) take off, aku merasakan betapa berat meninggalkan Tanah Air, orang tua tercinta, dan sanak-saudara," tulisnya. Dan sekelebat muncul juga bayangan seorang perempuan. Zakiyah, yang ditaksirnya sejak SMP di Serang. "Ada perasaan yang lain," ujarnya. Kelak, perempuan yang sangat dicintainya itu dinikahinya pada 1995, sepulang dari Afghanistan.
Imam akhirnya tiba di Karachi, Pakistan. Rombongan mujahidin asal Indonesia itu pun menuju Peshawar. "Esok harinya, perjalanan ke negeri impian para lelaki dilanjutkan," tulis Imam di buku memoarnya. Saat melintasi perbatasan Pakistan-Afghanistan itu, dia mengenakan pakaian khas Afghanistan, "Menutup seluruh wajah, kecuali mata dengan menggunakan ridah (selimut tipis), tidak mengucapkan sepatah kata pun," ia melanjutkan.
Menjelang senja, setelah berjalan kaki empat jam dari perbatasan, dia tiba di sebuah kamp yang terkenal dengan sebutan Muaskar Khilafah. Di sana, seperti diakuinya, dia menapak sebuah kehidupan baru. Imam menuliskan "kehidupan baru yang sangat membahagiakan itu" dengan frasa berikut: "'Musik' kami adalah rentetan peluru, ledakan mortar, dentuman Zigoyar dan Da-Scha-Ka (senjata anti-pesawat). 'Nyanyian' kami adalah nasyid (sejenis acapella, pembangkit semangat jihad). 'Senandung' kami adalah lantunan ayat-ayat Al-Quran yang tak pernah berhenti selama 24 jam saling bergiliran."
Tempat itu ternyata bernama Khost. Di sana, dia tiba menjelang musim gugur. "Daun-daun zaitun masih kekal bertahan. Daun-daun 'caparkat' dan 'cactus' Afghan telah luruh. Tinggallah duri dan kayunya yang kelak dibakar untuk memasak dan pemanas. Anor (buah delima) tak lagi berbuah, runtuh dedaunannya sudah. Saghol (serigala) melolong di tengah malam, selapis jaket mesti dikenakan."
Dan Khost, tulis Imam, bukan tempat biasa. "Bukan kampus orang-orang Eropa atau Amerika yang mengisi kehidupan mereka dengan segala kemaksiatan dan kemeriahan dunia." Khost adalah: "Sekeping tanah di bentangan bukit. Sewaktu-waktu, kapan saja, musuh hendak dan mau, mereka menyerbu, melontar mortar, memuntahkan peluru, dan terjadilah perang seru." Ajal memang di tangan Allah, tutur Imam, "Tapi di Khost, dan front jihad lain di Afghanista, kematian terasa begitu dekat."
Bagian yang menarik adalah pergumulannya di dunia maya. Imam, yang mengaku bisa betah sehari semalam di depan layar komputer itu, membagi ilmunya menjebol situs maya. "Hacking, Darimana Mulai?" memuat petunjuk praktis bagaimana seorang bisa menjadi hacker. Dia juga memberi kiat carding alias menjebol kartu kredit orang lain saat terjadi transaksi di Internet. "Modal seorang hacker adalah otak," demikian ia menulis. "Cyber war adalah pertempuran abadi. Para hacker muslim tidak akan membiarkan Amerika dan sekutunya nyaman dalam jaringan komputer mereka," tulisnya lagi.
Jika ia membenci Amerika, yang dianggapnya puncak konspirasi kaum Nasrani yang dia sebut salibis dan zionis internasional itu, kenapa justru Bali menjadi sasaran? Dalam satu tulisannya, Mengapa Bom Bali?, Imam menjelaskan: "Sabar dulu. Bali sama sekali bukan targetku. Dan, kalian kawanku, Bali hanyalah sekeping tempat di mana berlindungnya teroris Amerika dan sekutunya."
Lalu, disusul pertanyaan: kenapa tidak dilakukan saja di Amerika, atau Australia, Prancis, Jerman, Belanda, atau di negara-negara sekutu Amerika lainnya? Dia menjawab sendiri: "Karena aku wanted, wanted, dan wanted. Itu satu di antara jawaban paling mudah dipahami. Kalau tak wanted pun, bukan urusan mudah mendapatkan visa dari negara-negara itu. Faktor lainnya cukup susah atau barangkali tidak bisa menyediakan dan memperoleh infrastruktur dengan kepentingan attack di dalam negara-negara sekutu monster tersebut. Dengan kata lain, ability dan possibility kita tidak memungkinkan beroperasi di dalamnya," ia menjelaskan.
Semudah itukah menentukan Bali sebagai killing zone? "Itu bukan masalah sepele. Penentuan target tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Apalagi menyangkut masalah nyawa. Tapi, apa pun ceritanya, manusia tak mengerti hakekat jihad pasti mengutuk dan memberi komentar yang mengelirukan, menyesatkan, dan menyakitkan," dia memberi dalih. "Luka-luka Palestina belum lagi mengering. Isak dan tangis bayi-bayi kecil tanpa kepala, tanpa telinga, tanpa lengan dan kaki, terus membayang di awang-awang. Siapa peduli mereka?"
Dan Imam memang seorang true believer. Dia menempuh jihad sebagai jalan pembalasan atas penindasan di dunia Islam yang tertindas di Afghanistan dan Palestina. Lalu, bom pun meledak di mana-mana, di tempat yang jauh dari Afghanistan, sampai akhirnya melumat 202 jiwa di Bali. Pengadilan telah menjatuhkan vonis mati bagi dirinya. Tapi, surutkah dia?
Dalam tulisan Escape, yang seakan disiapkannya menyonsong maut, Imam menulis: "Rohku tak lagi terpenjara. Kini jiwaku ada di negeri para syuhada, negeri sejuta duka. Afghanistan." []


Wasiat: Asy syahid Imam Samudra


Wasiat Mujahid Imam Samudra


Akhi... Bersabarlah

Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.
Segala pujian hanya milik Allah, Sesembahan seluruh makhluk, dan shalawat kepada Rasul akhir zaman, Muhammad Sallallahu 'alaihi wa sallam. 
Telah kuterima suratmu akhi, di antara gerimis hujatan dan cercaan para penguasa zhalim. Supucuk suratmu telah membangkitkan perasaan dan semangatku. Dari balik jeruji besi ini, aku sampaikan bahwa aku baik dan selalu dalam lindungan Allah, Pemelihara alam semesta dan Sesembahan segala makhluk. Tiada kenikmatan yang mampu aku rasakan kecuali dalam jeruji ini. Satu kenikmatan yang hanya aku yang mampu merasakannya. 
Akhi, aku wasiatkan kepada antum dan seluruh ikhwan yang telah mengazamkan dirinya kepada Jihad dan mati syahid untuk terus berjihad dan bertempur melawan syetan akbar dunia, Amerika dan Yahudi laknat. 
Akhi, jagalah selalu amalan harian antum. Sebab dengan itulah kita berjihad dan sebab itulah kita mendapat rizki mati syahid. Janganlah anggap remeh amalan sunnah akhi, sebab itulah yang akan menyelamatkan kita dari bahaya futur dan malas hati. 
Akhi, jagalah malammu kepada Allah 'Azza Wa Jalla. Selalulah isi malam malammu dengan sujud kepada-Nya dan pasrahkan diri antum sepenuhnya kepada kekuasaan-Nya. Ingatlah akhi, tiada kemenangan melainkan dari Allah semata. 
Ingatlah selalu akan janji kita, untuk selalu membentuk generasi pengganti. Satu generasi yang mereka mencintai kematian sebagaimana musuh-musuh Allah mencintai kehidupan. Bangkitkan generasi yang siap menjadi pasukan-pasukan Allah. Binalah suatu generasi yang mereka siap selalu untuk menjadi manusia penghancur kekafiran dan kebathilan. Bangunkan pemuda yang siap menjadi pasukan syahid yang akan menggentarkan musuh Allah, musuh Islam, dan musuh kaum Muslimin. 
Kepada antum yang telah mengikrarkan dirinya untuk bertempur habis-habisan melawan anjing-anjing kekafiran, ingatlah perang belumlah usai. Justru saat inilah baru dimulai peperangan yang sesungguhnya. Lakukan aksi-aksi syahid di mana pun antum semua berada. Janganlah takut akan cercaan orang-orang yang mencela, sebab Allah di belakang kita akhi. Jikalau terror yang selama ini kita lakukan membuat gentar dan takut, maka teruslah lakukan terror ke atas semua kepentingan musuh kita. Janganlah kalian bedakan antara sipil kafir dengan tentara kafir, sebab yang ada dalam Islam hanyalah dua. Ia adalah Islam dan kafir. Tidak ada beda antara sipil kafir dengan tentaranya. Jika kalian mampu membunuh troop-troop mereka, itu lebih baik bagi kalian dari pada ibadah sunnah kalian. 
Akhi, bersabarlah dengan semua ujian yang menimpa kita ini. Ingatlah semakin berat ujian ini, semakin dekat pula pertolongan Allah untuk pasukan kita. Buatlah sehingga orang-orang kafir itu merasa tidak kerasan dengan kekafiran mereka di muka bumi ini. Jadikan darah mereka seperti darah anjing yang hina dina. Lakukanlah terror atas mereka sebagaimana mereka melakukan terror dan pembantaian atas saudara kita di Palestin, Afghanistan, dan di seluruh penjuru bumi. Jika mereka membantai satu saudara kita, bantailah seratus orang dari mereka. Jika mereka membantai sepuluh saudara kita, bantailah seribu orang dari mereka, atau bahkan kalau bisa lebih dari itu. 
Akhi, jadikan hidup antum penuh dengan pembunuhan terhadap orang-orang kafir. Bukankah Allah telah memerintahkan kita untuk membunuh mereka semuanya, sebagaimana mereka telah membunuh kita dan saudara kita semuanya. Bercita-citalah menjadi penjagal orang-orang kafir. Didiklah anak cucu antum menjadi penjagal dan teroris bagi seluruh orang-orang kafir. Sungguh akhi, predikat itu lebih baik bagi kita daripada predikat seorang Muslim tetapi tidak peduli dengan darah saudaranya yang dibantai oleh kafirin laknat. Sungguh gelar teroris itu lebih mulia daripada gelar ulama namun mereka justru menjadi penjaga benteng kekafiran. Sungguh sebutan teroris itu lebih berharga daripada gelar penguasa Muslim, namun mereka justru menjadi mesin pambantai kaum Muslimin. Jika kalian membenci dan memusuhi gelar yang diberikan oleh musuh Allah terhadap kita, maka melalui jalan mana lagi kita akan masuk Jannah. 
Ingatlah akhi, jannah itu diraih lewat jalan pedang dan pertempuran. jannah itu diraih dengan darah dan air mata. Jannah itu diraih dengan pembantaian dan kebinasaan. Islam itu ditegakkan dengan perang dan simbahan darah dan air mata. Tidaklah Islam itu jaya melainkan berdiri di atas darah dan tulang belulang para syuhada. Maka, jika kalian tidak sempat mengecap kemenangan Islam, maka kalian akan mengecap nikmatnya jannah yang telah dijanjikan Allah kepada para pembela dan pengawal Islam. 
Ingatlah selalu penderitaan orang-orang tua kita! Kenanglah selalu jerit tangis anak-anak kita! Janganlah hapus dari ingatan antum pencabulan yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap para Muslimah kita! Berjanjilah untuk membalasnya akhi! Berjanjilah! Bunuhlah para pemimpin orang orang kafir itu! Hancurkan kesombongan mereka dan hinakan harga diri mereka! Janganlan kalian berhenti memerangi mereka hingga Islam menang atau antum hancur dalam peperangan! Aku akan selalu berdoa untuk kemenangan Islam, kemenangan antum, dan kemenangan pasukan kita, di antara hardikan dan cambukan anjing sipir penjara. 
Sekian saja akhi. Bersabarlah dan selalu istiqomah! Allah dibelakang kita. Masa depan milik Islam. Allahu Akbar, Allahu Akbar, dan kekuatan hanya milik Allah semata. 
Wassalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu. 


Al-Faqir ilallah



Abdul Aziz Fakkahullah Asrahu
“diantara jeruji besi penguasa kafir Indonesia”.