Senin, 18 Mei 2009

Siapakah kita dan mau kemana...???


MENGENAL DIRI &  
MENGETAHUI FUNGSI HIDUP


“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang kejadian diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhan-nya”
Ar Ruum/30 :8

Mengenal diri sendiri

A. Mengapa manusia harus mengenal diri sendiri ?

Pengetahuan manusia tentang hakekat dirinya adalah penting, dengannya manusia menjadi mengerti siapa dirinya yang sesungguhnya dan ke mana seharusnya melangkah dan berbuat dalam kehidupan dunia ini.

Berangkat dari permasalahan di atas, ada tiga hal penting yang harus diketahui :
 Fungsi hidup
 Tujuan hidup
 Cara hidup

Dengan mengetahui ketiga hal tersebut, kehidupan manusia akan menjadi berguna, punya arah dan akan berjalan dengan baik, ini adalah awal dari kebahagiaan manusia.

Tanpa pengetahuan di atas, kehidupan manusia akan senantiasa diliputi kegelisahan, kebingungan dan kecemasan serta ketidakpuasan.

1. Fungsi hidup

Bayangkan dengan sebuah mesin yang canggih, seperti komputer, yang diberikan kepada sebuah suku terasing yang tidak mengenal sama sekali tentang baca tulis.

Akan diapakan oleh mereka !?… Sama keadaannya dengan apa yang akan dialami oleh manusia jika manusia tersebut tidak memahami fungsi hidupnya. Padahal manusia adalah suatu perangkat yang jauh lebih komplek dan rumit daripada komputer. Sungguh sayang sekali dan menjadi sebuah kesia-siaan.

2. Tujuan hidup

Ketika manusia mengerti tentang fungsi hidupnya, maka ia akan segera mengerti pula akan tujuan hidupnya.

Secara sederhana seperti alat-alat perkakas misalnya, sebuah palu, akan segera dipahami bahwa fungsinya adalah untuk memukul, gergaji untuk memotong dan lain sebagainya.
Alat-alat tersebut hanya tinggal alat, bila tidak digunakan Atau jika digunakan untuk keperluan lain yang tidak sesuai dengan fungsinya, maka tujuan penciptaan alat tersebut tidak terpenuhi.
Manusia yang salah dalam memahami fungsi kehidupan tidak akan pernah sampai kepada tujuan hidup yang sesungguhnya, walaupun mungkin ia merasa telah sampai kepada tujuan hidup yang telah ia tetapkan dan ia merasa bahagia, padahal bisa saja ia tertipu.

“Katakanlah:”Akankah kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya”
Al Kahfi/18/103~104

3. Cara hidup

Cara hidup adalah cara-cara atau metode yang dipakai manusia dalam rangka mencapai tujuan hidupnya
Keberadaan cara hidup adalah sebagai akibat atau tuntutan dari adanya tujuan hidup. Dan manusia yang memiliki tujuan hidup mau tak mau harus menetapkan sistem atau cara hidupnya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
Benar salahnya manusia dalam menetapkan cara hidup ini tergantung dari benar salahnya cara pandangnya terhadap fungsi kehidupan dan tujuan hidupnya. 
Sebagaimana halnya dengan alat perkakas tadi, yang harus dipakai dengan cara-cara yang benar, sehingga alat tersebut menjadi efisien, tidak rusak dan hasilnya maksimal.

B. Memahami diri akan mengangkat kualitas kehidupan

1. Kelompok pertama

Kelompok manusia yang tidak memperdulikan bagaimana hidupnya dan ia hanya mengejar kesenangan saja/ hedonisme. Kehidupan yang tak lebih daripada kualitas kehidupan hewan.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata(tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga(tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”
Al A’raaf/7:179

2. Kelompok kedua

Kemudian ada juga sekelompok manusia yang mau mengembangkan dirinya. Segala kemampuannya dicurahkan untuk mengejar tujuannya, tetapi kelompok ini sangat serakah dalam kehidupannya, semua harus bisa dicapai dan dikuasai, maka terjadi eksplorasi besar-besaran di alam ini tanpa henti. 
Kadang ia tidak memperdulikan resiko yang dihadapi, atau terkadang ia tidak memperdulikan akibatnya yang merugikan orang lain.

“…dan orang-orang kafir itu bersenang-senang di dunia dan mereka makan seperti makannya binatang”
Muhammad/47:12

Dan dia sebenarnya tidak pernah merasakan kepuasan yang sesungguhnya dalam kehidupannya, karena apa-apa yang diperolehnya hanyalah kesenangan-kesenangan semu, dan ia segera harus mencari kesenangan-kesenangan berikutnya.
Kelompok ini ibarat hewan pintar yang serakah seperti monyet

3. Kelompok ke tiga

Kelompok manusia yang ketiga adalah yang mengetahui tujuan akhir kehidupan dan ke mana ia akan sampai. 
Ia memahami tentang hakekat dirinya dengan sebenarnya, dan apa tujuan dari keberadaannya di muka bumi ini. 
Apa-apa yang dimiliki dan tujuan-tujuan jangka pendeknya, semuanya diorientasikan kepada tujuan akhir.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain main-main dan senda gurau. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, maka tidakkah kamu memahaminya?”
Al A’raaf/7:32

فَمَنْ يُرِدِاللهُ أَنْ يَهْدِيْهِ يَسْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلاَمِ" قَالُوْا: "يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرَحُ صَدْرَهُ؟" قَالَ: "يُدْخِلُ فِيْهِ النُّوْرَ فَيَنْفَسِحُ" قَالُوْا:"وَهَلْ لِذَلِكَ عَلَمَةٌ يَارَسُوْلَ اللهِ؟"،قَالَ:"التَّجَافِي عَنْ دَارِالْغُرُوْرِ، وَاْلإِنَابَةُ إِلَىدَارِالْخُلُوْدِ، وَاْلإِسْتِعْدَادُلِلْمَوْتِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِلَ الْمَوْتُ

“Barang siapa yang dikehendaki Allah untuk diberi-Nya petunjuk, maka Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam” Para Shahabat bertanya:”Wahai Rasulullah bagaimana Allah melapangkan dadanya?” Beliau bersabda:”Cahaya masuk ke dalam hatinya sehingga dia merasa lapang” Shahabat bertanya:”Apakah hal itu ada tandanya?” Beliau bersabda:”Tandanya ialah menghindari negeri tipuan(dunia), kembali ke negeri keabadian(akhirat) dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian sebelum kematian itu tiba”
Hadits Ibnu Mas’ud / Tafsir Al Maidah:125, Ibnu Katsir

Inilah kelompok manusia yang memahami hakekat kehidupan

“Inilah jalan Tuhanmu yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menerangkan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang memahami”
Al Maidah/5:126

C. Kehidupan dunia yang berputar-putar dan sebenarnya terbatas apabila tidak mengetahui dan mengejar kehidupan akhirat sebagai tujuan yang sesungguhnya

*****

Keharusan manusia mencari petunjuk yang terjamin kebenarannya

A. Cara pandang manusia terhadap dirinya

Dalam memahami diri sendiri yaitu memahami fungsi hidup, tujuan hidup dan cara hidup, manusia berbeda cara dan sudut pandang, sesuai dengan landasan berpijak, falsafah hidup dan keyakinan masing-masing, tetapi secara umum terdapat dua aliran ekstrim yang saling bertolak belakang.

1. Aliran materialisme

Menganggap manusia sebagai seonggok daging tanpa ruh di dalamnya, mereka menyikapi kehidupan dan melihat hakikat kehidupan hanya berdasarkan kepada sesuatu yang bisa ditangkap oleh panca indera. Yang bisa diindera adalah ada dan yang tidak bisa ditangkap oleh indera dan ilmu pengetahuan adalah tidak ada.
Mereka puas dan berusaha memuaskan dirinya dengan sangat memperhatikan hal-hal yang materialistik/inderawi, kehidupannya berkisar kepada masalah-masalah sandang, pangan dan papan, lalu bagaimana cara-cara untuk menyempurnakan ketiganya.
Dan di antara mereka menganggap kehidupan adalah kehidupan di dunia ini saja, tujuan hidupnya adalah kesenangan lahiriah saja dan akhirnya segala cara ditempuh untuk mendapatkan kepuasan hawa nafsunya dan tidak perlu memperhatikan nilai-nilai moralitas.

“ …Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitan “
Al An’am/6:29
Aliran ini terbagi dalam banyak model, antara lain kapitalisme, liberalisme, sosialis, komunisme, hedonisme. Mungkin ada istilah yang lain, tetapi dapat diketahui semua pemikiran tersebut lahir dengan landasan materialisme, lalu bagaimana cara memperoleh dan mengaturnya.

2. Aliran spiritualisme

Memahami bahwa hakikat manusia sebenarnya adalah roh, unsur yang tinggi, eksitensi manusia yang utama. Dan jasad dianggap sebagai unsur yang rendah, unsur yang fana, kotor seperti binatang dan tidak layak untuk dipenuhi keinginan serta kebutuhannya, layak untuk dikebiri atau bahkan dimusnahkan.
Mereka berusaha keras mengejar kesempurnaan diri mereka berupa kedamaian hati atau ketenangan batin dengan menjauhi dunia, mengasingkan diri, bertapa, menjauhi lawan jenis dan membatasi makanan, sebagaimana yang dilakukan rahib-rahib, pendeta-pendeta dan sebagian besar golongan sufi.

B. Kesalahan manusia 

Kesalahan manusia adalah anggapannya bahwa aliran yang diyakininya adalah benar dan sesuai dengan dirinya.
Dan pada skala yang lebih besar adalah terciptanya suatu sistem yang berlaku di dalam masyarakat, di mana mereka saling berkelompok dan membuat aturan hidup yang mengatur hubungan di antara mereka.
Padahal ilmu manusia adalah bentuk dari hasil pengamatan, teori-teori kehidupan, berupa aliran-aliran pemikiran di atas adalah bersifat tidak kekal. Persoalan-persoalan ilmiah terus berkembang juga teori-teori kemanusiaan juga terus berkembang dan selalu mengkoreksi pemikiran-pemikiran atau teori-teori sebelumnya.

Lalu apakah manusia dalam memandang dirinya dalam upaya mengenal dirinya secara lebih dalam, menggunakan cara-cara di atas? Cara-cara yang senantiasa berubah mengikuti perkembangan pemikiran dan zaman?

Sesungguhnya hasil suatu pemikiran manusia dan sistem kehidupan yang diciptakannya, mungkin sebagian sesuai dipakai pada zamannya saja, karena suatu hasil pemikiran sangatlah subyektif dan sangat tergantung kepada kondisi dan situasi, daerah dan wilayah tertentu, dan tentu ia tidak cocok dengan tempat atau kondisi yang berbeda.
Jika manusia berangkat dari pengetahuan dan pijakan yang salah dalam memahami diri dan bagaimana menentukan tujuan hidup berikut cara hidupnya, cepat atau lambat ia akan menemukan kesengsaraan dalam hidupnya. 
Karena fungsi dan sistem kehidupan yang ia tentukan lama-kelamaan akan diketahui kelemahannya kemudian menjadi berlawanan dengan fitrahnya sendiri, dan ia tidak akan sampai pada kebahagiaan yang sebenarnya.
Maka adalah suatu keharusan bagi manusia untuk mencari informasi tentang dirinya bagi kepentingan kehidupannya dari suatu sumber informasi yang benar dan teruji kebenarannya.

C. Keterbatasan ilmu manusia

Manusia terlalu terbatas pengetahuannya yang terbukti dengan ilmu pengetahuannya yang selalu berkembang sebagai koreksi dan penyempurna atas kesimpulan-kesimpulan sebelumnya, trial and error. Hal-hal yang sudah terjadi, seperti sejarah, apalagi yang sudah berlalu lama tidak tercatat dengan baik oleh manusia, apalagi mencoba mengetahui apa yang belum terjadi.
Manusia dengan kadar keilmuannya tidak akan sanggup untuk memahami hakekat hidupnya, asal-mula kehidupan, dan proses kejadian dirinya. Sebagaimana tantangan dari Allah kepada manusia dalam hal penciptaan dirinya…

“Maka terangkanlah kepada-Ku tentang nuthfah yang kamu pancarkan, kamukah yang menciptakannya, ataukah Kami yang menciptakannya?”
Al Waqi’ah/56:58~59
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini apa yang mereka katakan”
Ath Thuur/52:35~36

Maka tidak ada cara yang lain untuk memahami atau membangun pandangan tentang hakikat diri manusia kecuali dengan berdasar petunjuk dari Yang menciptakan kehidupan manusia itu sendiri.
Bagaimana tidak, bukankah yang membuat atau mencipta mengetahui tujuan penciptaan? Bukankah Dia lebih mengetahui secara mendetail apa-apa yang diciptakan-Nya? Bukankah Dia yang mengetahui dan berkuasa bagaimana mengatur semua makhluk ciptaan-Nya secara bersama-sama?

“Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi dan Maha Besar”
Al Baqarah/2:255

Hanya berdasarkan bimbingan petunjuk atau informasi dari Allah saja yang akan menjamin kebenaran manusia dalam memahami dirinya dan dalam menjalani kehidupannya di dunia ini. 

“Dan inilah jalan Tuhanmu;(jalan)yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat Kami kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka disediakan Darussalam(syurga) pada sisi Tuhannya, dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan”
Al An’am/6:126~127

*****

Informasi dari Allah tentang keadaan diri manusia

A. Awal kejadian manusia

1. Dari sesuatu yang tidak bisa disebut
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu atas masa, sedang ia ketika itu belum merupakan suatu yang bisa disebut”
Al Insaan/76:1

2. Dari tanah dan saripati air
“Yang membuat sesuatu yang Ia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina(mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam(tubuh)nya roh(ciptaan)–Nya dan menjadikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati,…”
As Sajdah/32:7~9

3. Ditempatkan di dalam rahim
” Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani(yang disimpan) dalam tempat yang kokoh(rahim) ”
Al Mu’minuun/23:13

4. Proses kejadian manusia
”Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain…”
Al Mu’minuun/23 :15

إِنَّ خَلَقَ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًانُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَالِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَالِكَ، ثُمَّ يُبْعَثُ إِلَيْهِ اْلمَلَكُ فَيَنْفُحُ فِيْهِ الُّوْحَ
“Sesungguhnya penciptaanmu dalam perut ibumu adalah empatpuluh hari sebagai tetesan, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat meniupkan ruh kepadanya”
Riwayat Bukhari Muslim

B. Kondisi manusia yang diciptakan Allah

1. Manusia adalah makhluk yang paling mulia

a. Allah SWT menciptakan manusia dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya
“Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat:”Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya roh(ciptaan)-Ku...”
Al Hijr/15:28~29
b. Semua malaikat diperintah sujud kepadanya
“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat:”Sujudlah kamu semua kepada Adam, lalu mereka sujud kecuali Iblis…”
Al Israa’/17:61

2. Manusia adalah makhluk yang istimewa

a. Diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”
At Tiin/95:4

b. Dianugrahi akal
Untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Terdiri dari dua unsur yaitu otak untuk berpikir dan hati untuk merasa. Apabila keduanya telah berjalan sesuai dengan kebenaran yang telah ditetapkan Allah, maka manusia itu dikatakan berakal atau dikatakan telah menggunakan akalnya.

“…Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
Al Israa’/17:70

“…dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”
As Sajdah/32:9

c. Dianugrahi fitrah yang baik
“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama(Allah), (tetaplah atas)fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah)agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Ar Ruum/30:30

Allah telah menciptakan manusia dengan memiliki kesiapan untuk bertauhid dan beribadah hanya kepada-Nya.

Segala keburukan dan penyimpangan adalah pertanda rusak dan sakitnya fitrah yang ditimbulkan dari luar dan bukan merupakan bagian dari manusia. Sebagaimana bayi yang sehat dan sakitnya kerena pengaruh dari luar yang datang kepadanya

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي خُنَفَاءَ كُلُّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشًّيَاطِينُ فَا جْتَا لَتْهُمْ عَنْدِينِهِمْ

“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-Ku dalam keadaan suci, kemudian syaithan mendatangi mereka dan menarik mereka untuk menyimpangkannya dari dien(Islam)”
Hadits Qudsi, riwayat Muslim

كُلُّ مَوْلُوْدٍيُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ تُهَوِّدَانِهِ أَوْيُنَصِّرَانِهِ أَوْيُمَجِّسَانِهِ

“Setiap bayi yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi atau nashara atau majusi”
Shahihain

d. Memiliki naluri / hawa nafsu
Dibekali kekuatan amarah dan syahwat untuk melindungi eksitensinya, kekuatan untuk menghindar dari apa yang membahayakannya, mencari apa yang bermanfaat dan apa-apa yang dibutuhkannya.

Ia adalah pendorong gerak kehidupan manusia yang harus dikendalikan dengan akal dan hati, akal yang berguna untuk mencari ilmu serta hati sebagai alat penimbang kebenarannya. Lalu dikendalikan lagi dengan sabar agar ia bisa tetap istiqamah.

e. Memiliki akhlak
Al Khuluk adalah bentuk manusia yang tersembunyi/batin, ia adalah sifat-sifat jiwa, bisa bersifat baik atau bersifat jelek. 

Ia merupakan suatu keadaan jiwa yang darinya bersumber perbuatan manusia yang baik maupun buruk, yang semuanya muncul tanpa adanya pemikiran dan perenungan terlebih dahulu. 

Akhlak terbagi dua, akhlak yang berasal dari tabiat atau bawaan lahir (seperti sifat malu, penyabar), dan yang kedua adalah bentukan karena kebiasaan hidup dan pengaruh lingkungan atau dari latihan yang bermula dari perenungan atau pemikiran yang berlanjut menjadi kebiasaan perbuatan.

f. Kemampuan bicara dan berkomunikasi, berilmu, menganalisa dan belajar serta menulis

g. Tidak diciptakan untuk dibiarkan
“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
Al Mu’minuun/23:115

3. Pembawaan dasar manusia

a. Lemah dan payah
“…dan manusia dijadikan bersifat lemah”
An Nisaa’/4:28

 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”
Al Balad/90:4

b. Ilmu yang sedikit
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”
Al Ahzab/33:7
 “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati,…”
Luqman/31:34

4. Kecenderungan-kecenderungan
a. Ingkar nikmat
”Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata(terhadap nikmat Allah)”
Az Zukhruf/43:15

b. Pelupa
“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa(akan perintah itu) …”
Thaahaa/20:115

c. Keluh kesah dan kikir
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir”
Al Ma’arij/70:19

d. Suka membantah
“...dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”
Al Kahfi/18:54

e. Tergesa-gesa

“Dan manusia bersifat tergesa-gesa”
Al Israa’/17:11

f. Lemah kemauan
“…dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat”
Thaahaa/20:11

g. Cinta dunia 
“Sebenarnya kamu(hai manusia) mencintai kehidupan dunia”
Al Qiyamah/75:20

*****
Fungsi hidup adalah untuk mengemban amanat

Keberadaan manusia di muka bumi ini adalah tidak mungkin bila tidak diciptakan. Apakah manusia tiba-tiba ada dan muncul begitu saja? Kenyataannya, bila mau jujur dalam memandang dirinya, Allah menciptakan dirinya secara “paket”, serba lengkap dan mencukupi lagi sempurna, mustahil ia bisa hidup tanpa kelengkapan tersebut. Jadi tidak mungkin ia berasal dari evolusi, dari tingkat yang rendah menjadi makhluk yang bertingkat tinggi.
Dan tidak mungkin pula bila manusia diciptakan tanpa memiliki fungsi dan tujuan. Apakah keberadaan manusia ini hanyalah kebetulan atau diciptakan secara iseng saja? Mengingat besarnya potensi yang dimilikinya dan juga bekal-bekal hidup yang lain.

Apakah hidupnya sebagaimana kehidupan binatang… , survive, mencari makan dan minum, serta berketurunan.

Penciptaan kehidupan manusia adalah mempunyai fungsi dan tujuan, yaitu beribadah kepada Allah. Yang tentunya caranya sesuai dan menurut kehendak yang menciptakan manusia dan yang memberi kehidupan itu sendiri, yaitu Allah SWT.

1. Tidak dicipta untuk main-main
“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
Al Mu’minuun/23:115

2.Perjanjian manusia dengan Allah
“Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak keturunan Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka(seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhanmu?”, mereka menjawab:”Betul(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”, (Kami lakukan yang demikian itu)agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini(kekuasaan Tuhan)”
Al A’raaf/7:172

3. Mendapat amanat yang besar
” Sesungguhnya Kami telah mengamukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh,…sehingga Allah mengadzab orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ”
Al Ahzab/33:72

4. Tujuan penciptaan manusia
 “Dan Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”
Adz Dzariyaat/51:56

 “Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu…”
Al Baqarah/2:21

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat:”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…”
Al Baqarah/2:30

“Dia telah menjadikan kamu dari tanah dan menjadikan kamu pemakmurnya”
Huud/11:61

*****

Bekal dari Allah bagi manusia untuk memikul konsekuensi hidup

Semua yang telah diberikan Allah kepada manusia adalah nikmat yang merupakan bekal-bekal manusia untuk memikul konsekuensi kehidupannya, yaitu berupa keutamaan-keutamaan dan kelebihan-kelebihannya, melebihi makhluk yang lain.

Tetapi semua adalah tinggal potensi belaka bahkan menjadi penyebab kebinasaan apabila tidak di arahkan kepada tujuan yang benar karena cenderung mengikuti naluri yang bersifat bebas / hawa nafsu.

Maka Allah memberikan peringatan-peringatan-Nya dan memberikan hidayah kepada yang dikehendaki-Nya.

“…maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…”
Al Baqarah/2:213

“Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. Dan ingatlah ni’mat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab(Al Qur’an) dan Al Hikmah(As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang telah diturunkan-Nya itu…” 
Al Baqarah/2:231

Allah memberi kesanggupan bagi manusia untuk mendapatkan peringatan dan petunjuk ini Allah ini, apabila dirinya memiliki syarat kesiapan untuk menerimanya.

A. Hati yang bertaqwa kepada Allah SWT

Taqwa adalah sebaik-baik bekal dan yang mencukupi, tanpanya tiada bermanfaat bekal-bekal yang lainnya.

“…Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertawakallah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”
Al Baqarah/2:197

Allah telah menetapkan bahwa taqwa adalah sebaik-baik bekal, maka berbekallah dengan taqwa, karena manfaat darinya sangat besar.

1. Penjaga hati yang mudah lalai

Manusia begitu mudah untuk lupa dan lalai, maka untuk menguranginya adalah dengan lawannya yaitu kewaspadaan, waspada terhadap kehidupannya, di dalam melangkah di dalamnya, dan melewati ujian-ujian di dalamnya, apakah sudah dilewati dengan benar atau tidak? 
Sebagaimana gambaran taqwa menurut Umar Ra. Ketika dia ditanya tentang taqwa. Yaitu keadaan dimana seseorang yang sedang melewati jalan yang penuh dengan lubang dan rintangan. Dengan begitu dia akan berhati-hati kalau ingin selamat dalam melangkah, hatinya akan senantiasa disibukkan dengan pertimbangan-pertimbangan sebelum beramal, apakah ini halal atau haram.

2. Tambahan hidayah dari Allah berupa furqan

“Hai orang-orang yang beriman jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada furqaan…”
Al Anfaal/8:29

Dengan taqwa hati menjadi hidup, jernih dan terasah kepekaannya sehingga mampu membedakan antara yang haq dan yang batil, dan menjadikannya mudah untuk menerima cahaya nasehat dan ilmu.

3. Mempertemukan fitrah dengan kebenaran

Sesungguhnya kebenaran itu tidak samar bagi fitrah, karena fitrah diciptakan dengan kebenaran sebagaimana langit dan bumi diciptakan dengan kebenaran juga, terdapat sinergi /saling kerja sama dan keserasian antara keduanya.

“Dan mengapa kamu tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan”
Ruum/30:8

Akan tetapi hawa nafsulah yang menghalangi antara kebenaran dan fitrah. Hawa nafsu yang menebar kegelapan dan menghalangi pandangan yang benar, menyamarkan jejak, serta menyimpangkan dari arah tujuan.

Hawa nafsu tidak dapat ditolak dengan adu argumentasi karena akan menimbulkan kesia-siaan saja, tetapi dapat ditolak dengan taqwa, rasa takut kepada Allah dan kesadaran adanya pengawasan dari Allah SWT.

“Dan adapun orang-orang yang takut kebesaran Tuhan-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya..”
An Naazi’aat/79:40~41
“…maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya,…”
Asy Syams/91:8


4. Menjaga dari perbuatan maksiat kepada Allah

“Dan orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya ”
An Naziaat/79:40~41

Orang yang taqwa kepada Allah takut terhadap murka dan adzab-Nya tentu tidak berani berbuat maksiat apalagi menentang-Nya, ia akan selalu terjaga di dalam wilayah ketaatan.
Menahan diri/nafsu memerlukan perjuangan yang berat dan keras, karena mengendalikan agar nafsu tetap dalam ketaatan kepada Allah bertentangan dengan pembawaan dasar nafsu itu sendiri yang cenderung bebas tidak ingin dikekang, maka surga layak diberikan sebagai balasan, bagi yang mampu mengendalikannya.
Manusia diciptakan Allah dari dua unsur yaitu unsur tanah dan unsur roh. Yang masing-masing unsur memilliki sifat-sifat bawaan. Sifat roh adalah seperti malaikat, fitrah, tinggi dan mulia, dan sifat dari unsur tanah adalah rendah sebagaimana binatang. Ketika dua unsur ini bertemu dan menjadi manusia, sifat bawaan dari masing-masing unsur itu akan ikut terbawa pula.
Kemudian manusia dibekali oleh Allah berupa penjaga yang akan menjaga persatuan kedua unsur ini yaitu hati dan naluri. Hati berfungsi untuk menjaga bagian ruh/batiniah, senantiasa mengajak manusia kembali kepada fitrahnya, membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Sedangkan naluri berfungsi untuk menjaga jasad manusia, atau menjaga secara lahiriah. Naluri untuk memenuhi kebutuhan jasad seperti makan minum, tidur dan berketurunan, dan naluri untuk menghindari sesuatu yang membahayakan, seperti gerak reflek misalnya.
Manusia dalam beramal/beraktifitas sehari-hari tidak lepas dari kekuatan kedua unsur penjaga ini. Kekuatan hati diperoleh dari pemenuhan makanan rohani, maka sifat bawaan ruh akan hidup dan kuat. Kekuatan naluri/hawa nafsu diperoleh dari pemenuhan kebutuhan jasad
Dua unsur penjaga ini saling dominasi dan saling mempengaruhi tergantung dari makanan yang diperoleh masing-masing, mana yang lebih banyak makanannya ia yang akan lebih berpengaruh terhadp yang lain.
Manusia yang baik adalah yang mampu memenuhi kebutuhan jasadiah dan ruhaninya secara seimbang dan mengarahkan potensinya ke arah yang benar menuju tujuan hidupnya.

Di dalam proses saling mempengaruhi ini, musuh manusia yang bernama syethan ikut campur tangan dan berusaha merusak keseimbangannya. 
Pertama ia membisikkan manusia untuk lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan jasadiah sampai ke dalam porsi yang berlebihan, dan mengabaikan makanan-makanan hati. Ketika hati manusia menjadi lemah, maka dengan mudah syethan menyerang hati dengan membisikkan angan-angan kosong yang menipu, merusak fitrah dan membalik timbangan kebaikan keburukan yang dimiliki hati, sehingga yang baik bisa dikatakan buruk dan yang buruk dikatakan baik.
Atau sebagian yang lain tertipu bujukan syaithan dengan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ruh/hati saja dan mengabaikan kebutuhan-kebutuhan jasadiah, sehingga ia menjadi manusia yang lemah fisik dan lemah materi.

B. Akal yang difungsikan untuk mencari ilmu

Dengan akal manusia mampu mengemban beban yang berat dan tanggung jawabnya yang besar, dengannya menusia mampu mencari pengetahuan dan mengikat ilmu. Inilah karunia yang karenanya manusia dilebihkan dan dimuliakan atas kebanyakan makhluk.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”
Al Israa’/17:70

Ibnu Qayyim mengatakan:”Akal yang berfungsi dengan sempurna ialah yang mampu mengantarkan pemiliknya kepada ridha Allah Ta’ala kemudian ridha Rasul-Nya”

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”
Az Zumar/39:18
“Dan apabila kamu menyeru(mereka) untuk(mengerjakan) sholat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”
Al Maidah/5:58

 Kekuatan akal sangat dipengaruhi hati, jika hati kuat maka akal juga kuat dan tajam, hal ini juga berlaku bagi anggota tubuh yang lain, sebagaimana hadits dari Rasulullah:

أَلاَوَإِنَّ فِىالْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقُلُبُ
”Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila dia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati ”

Bukhari dari Kitabul Iman

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami?”
Al Hajj/22:46
“Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya sedang ia menyaksikannya”
Qaaf/50:37

C. Indera yang dimiliki manusia

“Dan Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa itulah kebenaran”
Sajdah/32:53

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata(tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga(tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”
Al A’raaf/7:179

D. Dunia dan seluruh isinya

“Dan Dia menundukkan untukmu apa-apa yang di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat)daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda(kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.”
Al Jatsiyah/45:13

“Tidakkah kamu memperhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk(kepentinganmu) apa yang di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan nikmat-Nya lahir dan batin”
Luqman/31:20

*****

Semua nikmat Allah adalah sarana untuk memikul konsekuensi kehidupan

“…sesungguhya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur”
Yunus/10:60

“Maha Suci Allah yang telah menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. Dan Dia pula yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang mau bersyukur”
Al Furqaan/25/61~62

“…janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya”
Al Anfaal/8:27

Jelas sekali bahwa Allah–lah yang telah menundukkan langit dan bumi bagi manusia, merancang serata menciptakan tempat tinggal manusia dengan begitu detail dan nyaman, susunan udaranya, iklim dan suhunya, besarnya gaya gravitasi yang sesuai dengan kebutuhan manusia, siklus perputaran air, buminya yang dapat ditanami bermacam-macam tanaman dan sebagai tempat hewan-hewan, dan masih banyak yang lain yang tidak mungkin disebutkan secara singkat, pendek kata semua yang ada di dunia ini adalah untuk menunjang kehidupan manusia.

Kemudian apa-apa yang ada pada dirinya, berupa indera, yang berfungsi sebagai alat perasa kenikmatan dan penjaga keselamatan diri, dan dengannya pula manusia bisa mencari ilmu.
Akal dan hati juga dikaruniakan Allah kepada manusia sebagai alat pengendali yang mengarahkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh kepada tujuan yang benar, agar senantiasa manusia bisa berjalan di atas kebenaran, sesuai dengan tujuan pemberian kenikmatan-kenikmatan tersebut.

*****



Jumat, 15 Mei 2009

Mengenal ilmu


MA’RIFATUL ILMU


“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”
An Nahl/16.78

“Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim ”
Al Ankabuut/29:49


Petunjuk Allah hanya bisa diperoleh dengan ilmu

Manusia dikaruniai akal untuk bisa menilai dan menyimpulkan sesuatu, sehingga dari proses berpikir ia bisa mengetahui dan memahami, lalu mengambil yang bermanfaat atau yang berguna serta meninggalkan yang mudharat atau yang membahayakan bagi dirinya.
Seperti halnya manusia untuk mengilmui bahwa bara itu panas, ia memerlukan proses belajar atau proses berilmu. Jika ia pernah secara tidak sengaja menyentuh bara dan terasa panas, maka lain kali ia tidak perlu untuk mencoba memegangnya jika ingin membuktikan bahwa bara itu panas. Ini adalah proses ilmu lewat pengalaman. Sedang orang yang sudah mengetahui bahwa bara itu panas maka ia tidak perlu mencoba dan ia akan langsung percaya bahwa bara itu panas, ini adalah ilmu melalui pengabaran.

Jika ilmu manusia dikaitkan dengan petunjuk Allah, maka tidak ada jalan lain bagi manusia kecuali menerima petunjuk tersebut. Manusia yang mengerti keterbatasan akal dan pengetahuannya tentu beriman kepada petunjuk Allah dan mengamalkannya.
Apalagi Allah senantiasa menjelaskan petunjuk-petunjuk-Nya dan memberikan bukti-buktinya, bahwa apa-apa yang ditunjuki-Nya, apa-apa yang dipilihkan-Nya untuk manusia adalah kebenaran, dan juga untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia itu sendiri.

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan yang buta? Hanyalah orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran…”
Ar Ra’d/13:19

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bahwa Al Qur’an itu adalah benar,…”
Fushshilat/41:53

“…Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda(antara yang haq dan yang batil)…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…”
Al Baqarah/2:185

Petunjuk-petunjuk Allah sendiri adalah merupakan ilmu maka orang yang menolaknya sebenarnya ia telah menolak ilmu atau ia dikatakan tidak menggunakan akalnya.

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tidak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.”
Al Baqarah/2:99

*****


Definisi ilmu

Definisi ilmu secara bahasa

اِدْرَاكُ الشَّىءِ بِحَقِيْقَتِهِ / اْليَقِيْنُ وَالْمَعْرِفَةُ

“Mengetahui sesuatu dengan hakekatnya/dan meyakini serta mengerti”
Munjid, 527

الْعِلْمُ صِفَةُ يَنْكَشِفُ بِهَا اْلمَطْلُوْبُ اِنْكِشَا فًا تَامَ


“Ilmu adalah sesuatu yang dengannya dapat mengungkap suatu masalah dengan jelas”
As Salam, juz 2:6

اَلْعِلْمُ يُقَالُ : اِدْرَاكُ الْكُلِّيِّ وَالْمُرَكَّبِ

“Ilmu adalah mengungkap / mengetahui sesuatu secara mendasar”
Mu’jamul wasith, juz 2 :164

Definisi ilmu secara syar’ie

لَيْسَ الْعِلْمَ عَنْ كَثِيْرَةِ الْحَدِيْثِ , وَلَكِنَّ الْعِلْمَ عَنْ كَثِيْرَةِ الْخَشْيَةِ

Ibnu Mas’ud berkata:
“Bukannya ilmu itu banyaknya perkataan, tetapi ilmu itu adalah banyaknya rasa takut kepada Allah”
Tafsir iIbnu Katsir

*****


Ilmu adalah landasan iman dan amal

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunan itu jatuh bersama-sama dengan di ke dalam neraka Jahannam?…”
At Taubah/9:109

Maka beriman kepada petunjuk-petunjuk Allah tidak bisa tidak harus dengan ilmu agar keimanan itu menjadi benar. Tanpa ilmu keimanan seseorang tidak jelas kebenarannya dan tidak akan pernah dilandasi dengan keyakinan, karena imannya hanya berdasarkan persangkaan dan keraguan.

“…Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna bagi kebenaran”
Yunus/10:36

“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang haqq dari Tuhanmu…”
Al Hajj/22:54

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dia-lah yang telah menurunkan al kitab(Al Qur'an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur'an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu termasuk orang yang ragu-ragu”
Al An'am/6:114

Karena sesungguhnya ilmu telah disandingkan dengan keimanan.

“Dan, berkatalah orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang kafir), ”Sesungguhnya kalian telah berdiam menurut ketetapan Allah sampai hari berbangkit”
Ar Rum/30:56

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”
Al Mujadilah/58 :11

Ilmu juga merupakan landasan amal. Dengan berilmu di dalam masalah agama, ia akan mengetahui mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan. Mana yang mendatangkan keridhaan Allah dan kebahagiaan, serta mana yang mendatangkan kemurkaan Allah dan kesengsaraan. 

اَلْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَلْ الْعَمَلِ

“Ilmu sebelum perkataan dan amal”
Al Bukhari

Kebaikan seseorang diperoleh dengan mengetahui atau mengilmui petunjuk-petunjuk Allah. Di dalam Shahihain dari hadits Mu’awiyah bin Abu Sofyan Ra, Rasulullah berkata :

مَنْ يُرِدِاللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ وَاِنَّمَااْلعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

”Barang siapa yang Allah menghendaki suatu kebaikan pada dirinya, maka Allah memberinya pengetahuan dalam masalah agamanya, sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar”

 
Muadz bin Jabal Ra. berkata:

وَبِهِ تُوْصَلُ اْلأَرْحَامُ وَيُعْرَفُ اْلحَلاَلَ وَلْحَرَامُ , وَهُوَإِمَامٌ وَلْعَمَلُ تَابِعُهٌ , وَيُلْهَمُهُ السُّعُدَاءُ وَيُحْرَمُهُ اْلأَشْقِيَاءُ


“Dengan ilmu terjalin silaturahim dan diketahui yang halal dan yang haram, ilmu adalah pemimpin, sedangkan amal pengikutnya, ilmu itu diberikan kepada orang-orang yang berbahagia dan diharamkan bagi orang-orang yang celaka”

Maka sungguh jauh perbedaan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu

“Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui ?”
Az Zumar/39:9

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”
Al Mujadilah/58 :11


Al Hasan Rhm. pernah berkata:
“Andaikata tidak ada orang-orang yang berilmu tentu manusia tidak berbeda dengan binatang”


*****

Fungsi dan urgensi ilmu

1. Alat untuk berma’rifatullah

“Ketahuilah sesungguhnya tidak ada Tuhan(yang berhak untuk disembah) selain Allah”
Muhammad/47:19

Dengan ilmu dan petunjuk dari Allah, manusia akan mengetahui hal-hal yang berada diluar jangkauan akalnya, tentang kebenaran dan juga tentang Allah SWT, sebatas pemberitahuan-Nya kepada manusia yang disampaikan melalui para Rasul-Nya.
Jika manusia tidak mengenal Allah bagaimana manusia akan beribadah kepada-Nya? Dan bagaimana cara-cara beribadah kepada-Nya?

2. Menunjukkan kepada Al Haqq agar dapat meninggalkan kejahilan

“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”
Al Alaq/96/5

Ibnu Qayyim Al Jauziyah: “Rasulullah mengidentikkan kejahilan seperti penyakit, dan menjadikan bertanya kepada ulama’ sebagai obatnya”


اَوَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الغَبِى السُّؤَالْ “Bukankah obat kejahilan itu dengan bertanya?”

Atsar Umar:

إِنَّمَاتَنْقُضُ عَرَىاْلإِسْلاَمِ عُرْوَتً عُرْوَتً اِذَانَسَاءَمِنَ اْلإِسْلاَمِ مَنْ لَمْ يَعْرِفُ الْجَاهِلِيَّةَ

 “Hancurnya Islam sekeping demi sekeping bila tumbuh di dalam Islam, orang yang tak faham arti jahiliyah”

Kejahiliyahan adalah mengakui adanya Rabb dan Ilah selain Allah dan menolak Allah sebagai Rabb dan Illah yang haq di alam raya.
 

3. Untuk mengetahui amal-amal yang benar

Amal yang benar adalah amal yang diterima Allah, dan syarat-syaratnya adalah ikhlas, yaitu amalan yang dari dan untuk Allah semata tanpa sekutu dan mengikuti petunjuk Rasulullah, yaitu amalan-amalan yang saleh

“…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”
Al Kahfi/18:110

مَنْ عَمِلَ عَمَلاًلَيْسَ عَلَيْهِ اَمْرُنَا فَهُوَرَدٌ
Dari Aisyah Ra : “Berkata Rasulullah SAW: ”Barang siapa beramal tanpa dasar dari kami, maka tertolaklah amalan tersebut.”
HR. Bukhari


*****

Dengan ilmu ridha Allah bisa dicapai

*****

Wajibnya mencari ilmu
 
1.“Hai orang-orang beriman, apabila dikatakan kepadamu : ”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan kepadamu, ”Berdirilah kamu” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”
Al Mujaadilah/58:11


2. Dari Anas bin Malik dari Ibnu Abbas:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ 

“Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim”
HR Ibnu Majah

3. “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya(ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”
At Taubah/9:122

*****


Macam-Macam Ilmu

Macam-macam ilmu menurut pengertian bahasa

1. Ilmu Dieniyah / Ilmu Syar'ie (Rasulullah sebagai sumber ilmu)
a. Fardhu 'ain

Ilmu Dien / ilmu tentang muammalah hamba terhadap Allah meliputi :
~keyakinan (aqidah, keimanan dan ilmu tentang Allah serta sifat-sifat-Nya)
~ilmu tentang perbuatan (ilmu tentang tata cara beribadah)
~ilmu-ilmu tentang apa-apa yang harus ditinggalkan
b. Fardhu kifayah
Ilmu yang membahas cabang-cabang ilmu dien secara lebih mendetail seperti :
Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu Waris / Faraid, Ilmu Falaq, dll

2. Ilmu Aqliyah / Ilmu Dunia / Ilmu Kaun (fardu kifayah)
Hasil rekayasa manusia sebagai pengembangan pemikiran untuk kemaslahatan kehidupan, seperti Ilmu Teknik dan Kedokteran, Ilmu Pertanian dan Perdagangan, dll.


Macam-macam ilmu menurut pandangan syar’ie :
Menurut syar’ie ilmu hanya ada tiga macam

العِلْمُ ثَلاَ ثَةٌ وَمَا سِوَى ذَالِكَ فَضْلٌ : آيَةٌ مُحْكَمَةٌ اَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ اَوْ فَرِيْضَتُهُ عَادِلَةٌ 
“Ilmu itu ada tiga, selainnya adalah keutamaan, yaitu ayat yang terang, sunnah yang tegak dan ilmu faraidh yang adil “
Ibnu Abu Dawud dan Ibnu Majah

*****

Hubungan Ilmu Dieniyah dan Ilmu Aqliyah

Ilmu aqliyah adalah berdasar akal manusia, di mana manusia di dalamnya mengadakan percobaan-percobaan, pendataan-pendataan pengalaman, sehingga diperoleh hasil dan kesimpulan yang lebih baik dari sebelumnya sesuai dengan yang diinginkan.

Ilmu aqliyah tidak bisa lepas dari hukum-hukum Allah yang berlaku di alam / hukum kauniyah, jadi manusia hanya mengikuti hukum-hukum tersebut, mengambil atau memilih sebab-sebab yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Ilmu aqliyah yang berasal dari akal tentu saja ia memiliki keterbatasan, seringkali akal salah dalam memahami hukum-hukum kauniyah, sehingga ia mengalami kesalahan juga dalam mengambil sebab-sebab. 

Begitu banyak hukum-hukum Allah yang berlaku di alam yang belum diketahui akal manusia, sehingga selamanya ilmu aqliyah berkembang dan mengalami penyempurnaan-penyempurnaan.

Sedangkan ilmu dieniyah adalah ilmu yang berupa risalah kenabian / wahyu, yang diberikan kepada rasul-Nya untuk disampaikan kepada manusia. Untuk menjelaskan segala sesuatu 

yang tidak mampu dijelaskan oleh akal dan mengoreksi hasil-hasil kesimpulan akal serta menunjuki manusia kepada kebenaran / al haqq.

Ia juga membatasi dan mengarahkan peran akal dalam mengambil pengetahuan agar tetap dalam kebenaran dan agar hasil-hasil yang diperoleh tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku di alam, sehingga keseimbangan dan keharmonisannya tidak rusak.
“Kemudian jika mereka berpaling dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan ”
Ali ‘Imran/3:63

“Telah nampak kerusakan di bumi dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) ”
Ar Ruum/30:41

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan(tujuan) yang benar,… ”
Az Zumar/39:5

Ilmu dieniyah seringkali dijelaskan dengan menggunakan fenomena-fenomena alam dan peristiwa-peristiwa yang lahir dan yang dapat dijangkau indera. Ini agar manusia dapat menerima bukti-bukti kebenaran risalah para Rasul, dan bukti-bukti adanya Allah yang dzat-Nya tidak bisa dijangkau oleh kemampuannya akalnya.

Maka mempelajari ilmu Aqliyah menjadi penting dalam rangka menunjang pemahaman terhadap ilmu Diniyah



Misalnya mu’jizat para rasul yang nyata-nyata disaksikan oleh mata kebenarannya, walaupun hakekatnya manusia tidak sanggup memikirkannya apalagi menyamainya, juga terhadap fenomena-fenomena alam yang terjadi bagi manusia yang jeli memperhatikannya. Sehingga batasan ilmu aqliyah pada akhirnya sampai kepada pengetahuan tentang kebenaran ilmu dieniyah.

Ilmu Dieniyah yang datang dari Allah melalui petunjuk Rasul-Nya untuk mengatur hal-hal yang pokok sehingga menjaga kelangsungan keharmonisan/keseimbangan kehidupan di dunia, membingkai kehidupan, dan tidak membiarkan manusia mengatur dan mengembangkan diri berdasarkan ilmu aqliyah kecuali di dalam bingkai yang telah ditentukan dan mengarahkannya ke arah yang benar.


Rasulullah bersabda:

اِ نْ كَانَ شَيْـأً مِنْ اُمُرِدُنْيَاكُمْ فَشَاْنَكُمْ بِهِ وَاِنْ كَنَ مِنْ اُمُرِدِيْنِكُمْ فَاءِلَيَّ

“Jika ada padamu sesuatu urusan dunia maka kalian lebih mengetahui atasnya dan jika kalian menginginkan urusan dien kalian, maka atasku” 
HR Ibnu Majah

*****

Dua kepentingan ilmu

*****

Ilmu yang benar 

Definisi :

Ilmu yang benar adalah ilmu yang apabila di amalkan mampu menyelamatkan manusia dari bahaya/sesuatu yang tidak bermanfaat/mudharat di dunia dan di akhirat, yaitu ilmu yang sesuai dengan kehendak Allah.

Syarat :
Bagaimana kita mengetahui benarnya sebuah ilmu adalah senantiasa mengujinya dengan ilmu-ilmu yang lain, sebagaimana Al Qur'an, tidak akan ditemui pertentangan di dalamnya. Ilmu akan bertambah kebenarannya apabila dikuatkan dan dibenarkan oleh ilmu yang lain, sebagaimana cahaya, ia akan semakin terang apabila didatangkan kepadanya cahaya yang lain.

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”
An Nisaa'/4:82

Semua ilmu dari satu sumber, bersumber dari Allah SWT, baik Kalamullah/Al Qur'an maupun ayat-ayat Allah yang berlaku di alam semesta / hukum kauniyah, semuanya tidak mungkin terjadi pertentangan.

“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang...”
Al Mulk/67:3

Kalaupun terjadi pertentangan, bisa jadi salah satu adalah masih berupa pendapat/persangkaan yang masih perlu diuji kebenarannya. Atau khasanah keilmuan kita yang masih terbatas atau bisa juga karena memang kadar akal kita yang terbatas dan tidak mampu menyingkap ilmu yang sebenarnya.

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan”
Yunus/10:36

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata(Lauh Mahfuzh)”
Al An'aam/6:59

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta, ditambahkan kepadanya tujuh laut(lagi) sesudah(kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya(dituliskan) kalimat Allah...”
Luqman/31:27


*****

Bencana ilmu

Ilmu menjadi bencana ketika ia tidak sesuai dengan kehendak Allah, tidak sesuai dengan apa yang diridhai dan dicintai Allah, yang terjadi karena:


1. Ilmu yang tercela 
a. Ilmu tentang hakekat/dzat Allah
“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya”
Thaahaa/20:110

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatanmu itu dan Dia-lah Yang Maha Halus dan Maha Mengetahui”
Al An’am/6:103

“…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat”
Asy Syuura/42:11

يَأْتِىالشَّيْطَانُ أَحَدُكُمْ فَيَقُوْلُ مَنْ خَلَقَ كَذَا ؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا ؟ حَتَّى يَقُوْلَ مَنْ
 خَلَقَ رَبَّكَّ ؟ فَاِذَابَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِ اللهِ وَلْ يَنْـتَهِ

Dari Abu Hurairah Ra., Rasulullah bersabda :
“Syetan mendatangi salah seorang di antara kamu lalu bertanya, siapa yang menciptakan ini ? siapa yang menciptakan itu ? Hingga bertanya siapa yang menciptakan Rabb-mu ? Jika ia membawa kepada pertanyaan ini, maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dan menghentikannya”
Shahihain, menurut lafadz Bukhari

الْعَجْزُ عَنِ اْلإِدْرَاكِ إِدْرَاكُ
Dari Abu Bakar Ra :“Tidak bisa mencapai pengetahuan merupakan pengetahuan juga”


b. Ilmu ghaib / sesuatu yang tidak masuk akal

“…Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya…”
Ali Imran/3:179

“Katakanlah:”Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah”…”
An Naml/27:65

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya(pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tiada sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata(Lauh Mahfuz)”
Al An’am/6:59

~Ilmu tentang hari kiamat
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui(dengan pasti ) apa yang diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal”
Luqman/31:34

~Ilmu tentang ramalan nasib
“….Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui(dengan pasti ) apa yang diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal”
Luqman/31:34

لَنْ يَلِجَ الدَّرَجَا تِ مَنْ تَكَهَّنَ أَوِاسْتَقْسَمَ أَوْ رَجَعَ مِنْ سَفَرٍ طَائِرًا


“ Tidak akan masuk ke dalam derajat syurga orang yang berdukun, mengundi nasib, atau pulang dari bepergian karena memandang sial melalui burung “
Ibnu Mardawih dari Abu Darda dari Rasulullah Saw.

~Ilmu tentang hakekat roh
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:”Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”
Al Israa’/17:85


~Ilmu sihir dan ilmu kesaktian, kebal, dsb
"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Sulaiman(dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman mengerjakan sihir), padahal tidak(tidak mengerjakan sihir), hanya syetan-syetan itu yang kafir(mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan:"Sesungguhnya kami hanya cobaan(bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir ..."
Al Baqarah/2:102

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”
Al Jin/72:6



2. Ilmu yang rusak

a. Rusaknya tujuan semula, karena tidak dimaksudkan untuk mendapat keridhaan Allah dan akhirat karena mengikuti hawa nafsu

Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban, dari Abu Hurairah Ra dari Rasulullah Saw:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمً مِمَّايُبْتَغَىبِهِ وَجْهُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، لاَيَتَعَلَمُهُ اِلاَّلِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضً مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عِرْفَ الجَنَّةِ يَوْمَالقِيَامَة

”Barang siapa mempelajari ilmu, yang dengan ilmu itu semestinya ia mencari Wajah Allah dan dia tidak mempelajari melainkan untuk mendapatkan kekayaan dunia, maka dia tidak akan mencium bau syurga pada hari kiamat”

b. Menganggap dan meyakini telah berilmu dan beramal dengan benar padahal tidak.

“Katakanlah:”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.”
Al Kahfi/18:103~104


Perkataan Ibnu Rajab al Hambali :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَظُنُّ أَنَّهُ طَرِيْقُ اْلجَنَّةِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَقَدْ سَلَكَ أَعْسَرَ الطَّرِيْقِ وَأَشَقَّهَاوَلاَيُوْصِلُ إِلَى اْلمَقْصُوْدِ عُسْرِهِ وَمَشَقَّتِهِ

“Barangsiapa yang menempuh jalan yang dikiranya menuju jannah tanpa mempunyai ilmu, maka benar-benar telah menempuh jalan yang sangat sukar dan berat, meski demikian tidak menyampaikannya kepada tujuan”

Hal ini bisa terjadi ketika seseorang berhenti mencari ilmu dan mencukupkan diri dengan apa yang sudah diperoleh, dan kemudian menolak ilmu yang datang kemudian.

c. Ilmu yang tidak diamalkan

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”
Ash Shaff/61:2~3

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan Taurat kepadanya, kemudian mereka tidak memikulnya, adalah seperti keledai yang memikul kitab-kitab yang tebal, amat buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu…”
Al Jumu’ah/62:5

*****


Bahaya bagi masyarakat yang tidak mengenal ilmu

Manusia yang tidak memiliki ilmu karena tidak mau mencari ilmu terutama ilmu agama adalah manusia yang harus dijauhi, karena ia tidak dapat mendatangkan manfaat baik bagi dirinya sendiri lebih-lebih untuk orang lain.



بَلِ ائْتَمِرُوْ ابِالْمَعْرُوْفِ وَتَنَاهَوْاعَنِ الْمُنْكَرِ, حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّ مُطَاعًا, وَهَوًى مُتَّبَعًا, وَدُنْيَامُؤَثَّرَةً, وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِيْ رَأ ْيٍ بِرَأ ْيِهِ, فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ, وَدَعِ الْعَوَامَ, فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَ يَّمًا, الصَّابِرُ فِيْهِنَّ مِثْلُ الْقَابِضِ عَلَىالْجَمَرِ, لِلْعَامِلِ فِيْهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِيْنَ رَجُلاً يَعْمَلُوْنَ كَعَمَلِكُمْ (رواه الترمذي)

“Bahkan kamu harus saling menyuruh untuk berbuat ma’ruf dan mencegah dari berbuat munkar, hingga engkau melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang mempengaruhi, dan kekaguman seseorang akan pendapatnya, maka wajib atasmu untuk menjaga dirimu( dari yang demikian) dan jauhilah orang awam, maka sesungguhnya di belakangmu nanti ada hari-hari yang panjang, orang sabar di dalamnya tak ubahnya seperti orang yang menggenggam bara, bagi orang yang beramal balasannya sebanyak limapuluh laki-laki yang beramal seperti amal kamu”
Hasan Gharib, Shahih


 Ada dua komponen penting di dalam masyarakat yang mempengaruhi masyarakat, dua komponen tersebut sangat potensial untuk menyesatkan masyarakat yang tidak berilmu.

“Dan mereka berkata:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan dari jalan yang benar”
Al Ahzab/33:67

 1. Pemimpin / umara’ yang jahil dan menyesatkan

إِنَّمَاأَخَافُ عَلَىأُمَّتِيْ الأَئِمَّةَ اْلمُضِلِّيْنَ
“Yang aku takuti terhadap ummatku ialah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan”
HR Abu Dawud

Dari Ibnu Amru bin ‘Ash Rasulullah bersabda:

اِنَّ اللهَ لاَيَقْبِضُ العِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَتَزِعُهُ مِنْ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حَتَّىاِذَالَمْ يَتْرُكْ عَالِمًااِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُسَاءَ جُهَّلاً فَسُئِلُوافَأَفْتَوْابِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْاوَاَضَلُّوْا

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak mengangkat ilmu dengan seketika dari manusia, tetapi dengan mematikan ulama’, sampai apabila tidak tinggal seorang ‘alim pun, manusia akan mengangkat para pemimpin yang bodoh yang ketika ditanya ia akan berfatwa tanpa ilmu, ia akan tersesat dan menyesatkan mereka itu”
HR Bukhari-Muslim

2. Ulama’ yang buruk dan tidak amanah
وَيْلٌ لاُِمَّتِي مِنْ عُلَمَاءِ السُّوْءِ
“Celaka atas ummatku dari ’ulama yang buruk” 
HR Al-Hakim

يَأ ْتِى عَلَىالنَّسِ زَمَنٌ لاَيَـبْقَى مِنَ الاِْسْلاَمِ اِلاَّ اسْمُهُ وَلاَ مِنَ الْقُرْاَنِ اِلاَّ رَسْمُهُ مَسَا جِدُهُمْ يَوْمَئِذٍ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى عُلَمَاؤُهُمْ شَرٌّ مِنْ تَحْتِ اَدِيْمِ السَّمِاءِ مِنْهُمْ خَرَجَتِ الْفِتْنَةُ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ
Ibnu Abi Dunya, hadits dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari kakeknya, Ali berkata,….
“Pada manusia akan datang suatu masa di mana agama Islam tinggal namanya saja, dan Al Qur’an tinggal tulisannya saja. Di kala itu masjid-masjid mereka ramai tetapi kosong dari petunjuk, ulama mereka sejahat-jahat makhluk yang hidup dikolong langit. Dari mereka keluar fitnah dan kepada mereka pula fitnah itu akan kembali”

a. Ulama’ yang menyembunyikan ilmu yang telah diperolehnya
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan(yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati”
Al Baqarah/2:159

“Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa(kitab) yang ada pada mereka, sebagian orang-orang yang diberi kitab(Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang(punggung)nya seolah-olah mereka tidak mengetahui(bahwa itu adalah kitab Allah)
Al Baqarah/2:101

b. Ulama' yang menjual ilmunya
“…dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah.. ”
Al Baqarah/2:41

c. Ulama’ yang tidak jujur, menukar ilmu dan mencampurnya dengan kebatilan
“Dan janganlah kamu campur adukkan yang haqq dengan yang bathil… ”
Al Baqarah/2:42

تَنَا صَحُوْا فِي اْلعِلْمِ، وَلاَ يَكْتُمْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، فَإِنَّ خِيَانَتً فِي اْلعِلْمِ أَشَدُّ مِنْ خِيَانَتً فِي اْلمَالِ
“Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan janganlah saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengeetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta”
HR Abu Na’im

d. Ulama’ yang melakukan kesalahan

إِنَّمَاأَخَافُ عَلَىأُمَّتِيْ أَعْمَالاً ثَلاَثَتً: زَلَّةُ عَالِمٍ، وَحُكْمُ جَائِرٍ وَهَوًىمُتَّبَعٌ

“Yang aku takuti terhadap ummatku ada tiga perbuatan, yaitu kesalahan seorang ulama’, hukum yang zalim dan hawa nafsu yang diperturutkan”
HR. Asysyihaab

e. Ulama’ yang tidak ber’amar ma’ruf

إِذَاظَهَرَتِ اْلبِدَعُ فِي أُمَّتِي فَعَلَى اْلعَالِمِ أَنْ يُظْهِرَ عِلْمَهُ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَاْلمَلآئِكَةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ، لاَيُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلاَعَدْلُ
 “Apabila muncul bid’ah-bid’ah di tengah ummatku, wajib atas seorang ‘alim menyebarkan ilmunya(yang benar). Kalau ia tidak melakukannya maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Tidak diterima shadaqahnya dan kebaikan-kebaikan amalnya”
HR Ar-rabii

*****

Karakter Orang yang telah memiliki ilmu

1. Takut kepada Allah

Cukup seseorang dikatakan berilmu apabila ia bertambah takut terhadap Allah dengan bertambahnya ilmu, tidak seperti halnya para orientalis, yang berilmu tetapi ilmunya tidak untuk beriman dan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi hanya untuk kepentingan dunia saja.
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”
Al Fathir/35:28


2. Beriman kepada kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya

“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mu’min, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur’an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu…”
An Nisaa”/4:162
“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang haq dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”
Al Hajj/22:54

Konsekuensinya, ia beriman kepada seluruh ayat-ayat Allah, dan tidak memilih-milih menurut hawa nafsunya, atau memilih jalan tengah.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya dan mereka menghendaki untuk memisahkan antara Allah dan Rasul-Nya, dan mereka berkata:”Kami beriman kepada yang sebagian dan kami ingkar kepada sebagian”, dan mereka menghendaki jalan di antara yang demikian itu (iman atau kafir) . Mereka itulah orang-orang yang benar-benar kafir…”
An Nisaa’/4:150

Konsekuansi kedua adalah mentaati Allah dan Rasul-Nya secara mutlak

 “”Dan tidak patut….bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka…”
Al Ahzab/33:36

3. Ilmunya diamalkan

Ali bin Abu Thalib Ra:
اِنَّمَا العَالِمَ مَنْ عَمَلَ بِمَا عَلِمَ وَوَافَقَهُ عَمَلَهُ
“Sesungguhnya orang yang disebut alim adalah orang yang beramal dengan ilmunya, dan sesuai antara ilmu dan amalnya”
اَلْعَالِمُ بِغَيْرِ عَمَلٍ كَاالمِسْبَاحِ يَحْرِقُ نَفْسَهُ
 “Seorang ulama' yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri ”
HR Adailami
4. Menda'wahkan ilmunya

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ جَاءَيَومَ القِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

“Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali(di mulutnya) dari api neraka”
HR Abu Dawud

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar…”
Ali Imran/3:104
بَلِغُوْا عَنِاللهِ, فَمَنْ يَلَغَتْهُ آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ فَقَدْ بَلَغَهُ أَمْرُ اللهِ


“Sampaikanlah informasi dari Allah, barang siapa menerima sebuah ayat dari kitabullah, berarti perintah Allah telah sampai kepadanya”
Abdur Razzaq dari Muammar dariQatadah dari Rasulullah Saw

5. Bertafakur dan berdzikir terhadap ayat-ayat Allah dalam setiap keadaan

“(Yaitu)orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(seraya berkata):"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka”
Ali Imran/3:191

Ia senantiasa dalam kondisi dzikir kepada Allah, dalam segala bentuk amalnya kesehariannya dibuktikan dengan mengawali doa ketika hendak berbuat sesuatu sebagaimana Rasulullah mengajarkan do’a-do’a harian.

6. Mengikuti al haq dan mencintai kebaikan

“... yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”
Az Zumar/39:18

*****

Larangan Berkata Tanpa Ilmu

Dari Ibnu Abbas:
مَنْ قَالَ فِىالقُرْآنِ بِغَيْرِىعِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّ اْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَارِ


“Barang siapa berkata tentang Al Qur'an tanpa ilmu, maka bersiaplah untuk menempati tempat duduknya di neraka”
HR Abu Dawud

Dari Abu Hurairah:
مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَبَوَّ اْمَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja, maka bersiaplah menempati tempat duduknya di neraka”
HR Tirmidzi, Ahmad dan Thabrani

Dari Imam Ahmad di dalam Musnadnya

فَمَاعَلِمْتُمْ مِنْهُ فَقُوْلُوْا وَمَا جَهِلْتُمْ فَكِلُوْهُ عَالِمِهِ
“Apa-apa yang kalian ketahui maka katakanlah, dan apa yang tidak kalian ketahui, maka serahkanlah kepada ahlinya”

Dari Abu Hurairah Ra., berkata Rasulullah Saw. :
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَاسَمِعَ

“Cukup seseorang dikatakn pendusta apabila ia berkata tentang semua apa yang ia dengar”

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah adalah besar”
An Nuur/24:15

Berkata Abu Bakar Ra. Berkata:
اَيُّ اَرْضٍ يُقِلُنِي وَ اَيُّ سَمَآءٍ تُظِلُّنِي اِذَ قُلْتُ عَلَي اللهِ مَالاَ أَعْلَمُ

“Bumi mana yang akan melindungiku dan langit mana yang akan menaungiku jika akau berkata tentang Allah dengan sesuatu yang tidak aku ketahui ilmunya”

Di dalam Syarh Sunnah Imam Baghawy, Abu Hushain berkata:
اِنَّ اَحَدَكُمْ لَيُفْتِيَ فِى الْمَسْأَلَةِ لَوْ وَرَدَتْ عَلَى عُمَرابْنِ الْخَطَّاب لَجَمَعَ لَهَ اَهْلَ بَدْرٍ

“Jika di antara kalian mendatangkan suatu permasalahan kepada Umar, niscaya ia mengumpulkan ahli Badar untuk menjawabnya”

*****
Fadhilah Ilmu

1. Allah meninggikan derajat orang yang berilmu

“...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat... ”
Al Mujadilah/58.11

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Ia, yang menegakkan keadilan, para malaikat dan orang-orang berilmu juga bersaksi demikian....”
Ali Imran/3.18

2. Berada di jalan Allah

Dari Malik bin Anas:

مَنْ خَرَجَ فِىطَلَبِ العِمِ فَهُوَ فِى سَبِلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali”
HR Ibnu Majah

3. Mendapat pahala sebagaimana pahala orang yang mengamalkan ilmu darinya
Dari Ibnu Abi Mas'ud al Badry:

مَنْ دَلَّ عَلَى الخَيْرِ فَلَهُ مِثْلَ اَجْرَ فَا عِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan pada kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya ”
HR Tirmidzi (Hasan Shahih)
Dari Tsabit dari Anas


مَنْ دَعَاإِلَىهَدْيٍ كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِمَنِ اتَّبَعَهُ إِلَىيَوْمِ اْلقِيَامَةِ لاَيَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala sebesar pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat tanpa dikurangi sedikitpun pahala orang-orang yang mengikutinya”
Shahih

4. Pahala yang tidak terputus karena kematian
Dari Abu Hurairah:
اِذَا مَاتَالاِْنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٌا وَعِلْمُ يَنْتَفِعُ بِهِ اَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُولَهُ
“Apabila seorang meninggal terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak sholeh yang mendoakannya ”
HR Tirmidzi dan Abu Dawud

5. Dimudahkan jalannya menuju jannah

Dari Abu Darda’ :


مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَبْتَغِى فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيْقًا اِلَى الخَنَّةِ وَاِنَّ الْمَلاَئِكَةُ لَتَضَعُ اَجْنِحَتَهَا رِضَاءًالطَلِبِ العِمِ وَاِنَّ العَالِمِ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاةِ وَمَنْ فِى الاَرْضِى حَتَّىالحِيْتَا نُ فِىالمَاءِ وَفَضْلُ العِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ عَلَى سَائِرِالكَوَاكِبِ . اِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُالاَنْبِيَاءِ. اِنَّالاَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِثُوادِيْنَرًا وَلاَدِرْهَمًا وَرَّثُوالعِمَ فَمَنْ اَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرًا

“Barang siapa merintis jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke jannah dan sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada pencari ilmu. Sesungguhnya orang berilmu itu dimintakan ampunan oleh siapa saja apa yang ada di langit, siapa saja yang ada di bumi, hingga ikan-ikan di laut. Kelebihan orang 

berilmu atas orang beribadah adalah seperti kelebihan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama' pewaris Nabi-Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar, dan tidak pula dirham, namun mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mendapatkannya, sungguh ia mendapatkan keberuntungan yang besar”
HR Abu Dawud dan Tirmidzi
 Ibnu Rajab mentakhrij hadits di atas:
الْعِلْمُ يَدُلُّ عَلَىاللهِ وَمِنْ أَقْرَبِ الطُّرُقِ وَأَسْهَلِهَ فَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقَهُ وَلَمْ يَعْوَجَّ عَنْهُ وَصَلَ إِلىاللهِ مِنْ إَقْرَبِ الطُّرُقِ وَأَسْهَلِهَ

“Ilmu itu menunjukkan jalan kepada Allah dan merupakan jalan yang paling dekat dan mudah. Maka barangsiapa menggunakan ilmu dan tidak menyimpang darinya niscaya ia akan sampai kepada Allah dan syurga melalui jalan yang paling dekat dan mudah”

6. Menunda hari kiamat
اِنَّ بَيْنَ يَدِى السَّاعَةِ اَيَّامًا يَرْفَعُ فِيْهَا الْعِلْمُ وَيَنْزِلُ فِيْهَا الْجَهْلُ

“Sesungguhnya di antara dekatnya hari kiamat adalah dicabutnya ilmu dan ditimpanya kebodohan”
HR Muslim, syarah Nawawi, juz 4:2056

7. Beberapa keutamaan ilmu atas harta menurut Ibnu Qoyyim Al Jauziyah:

a. Ilmu adalah warisan para Nabi, sedang harta adalah warisan para raja dan orang-orang kaya.
b. Ilmu menjaga pemiliknya sedang harta harus dijaga pemiliknya
c. Ilmu berkuasa atas harta dan harta tidak berkuasa atas ilmu
d. Ilmu bertambah jika diinfaqkan sedang harta berkurang jika diinfaqkan
e. Ilmu tidak berpisah dengan pemiliknya jika sudah mati sedang harta ditinggal untuk ahli waris
f. Ilmu hanya bisa diperoleh oleh orang yang beriman, sedang harta bisa diperoleh siapa saja, kafir atau iman.
g. Ilmu dibutuhkan oleh para raja dan orang-orang pandai dan orang-orang yang selevel dengan mereka sedang harta dibutuhkan oleh orang-orang miskin.
h. Ilmu menjadikan pemiliknya mulia dan berjiwa bersih sedang harta membuat pemiliknya kikir dan tamak terhadap dunia
i. Ilmu mengajak pemiliknya taat beribadah sedang harta mengajak pemiliknya berbuat sewenang-wenang
j. Ilmu mengajak pemiliknya menjadi budak Allah SWT sedang harta memperbudak pemiliknya dan mengajak maksiat kepada Allah
k. Ilmu berasal dari ruh dan harta berasal dari badan
l. Ilmu membuat pemiliknya kaya dan tidak takut miskin sedang harta sebaliknya, membuat pemiliknya merasa miskin.
m. Kelezatan ilmu adalah kelezatan akal dan ruhani mirip dengan kegembiraan malaikat sedang kelezatan harta adalah kelezatan syahwat, badaniah, ilusi mirip dengan kelezatan binatang.
n. Orang yang kaya ilmu merasakan keamanan, kebahagiaan dan kegembiraan, sedang orang kaya harta hidupnya diliputi kekhawatiran dan kesedihan, sedih ketika belum mendapat harta, khawatir setelah mendapatkannya, semakin banyak hartanya ia semakin khawatir.


“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”
An Nahl/16.78

“Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim ”
Al Ankabuut/29:49



اَللَّهُمَّ اَنْفَعْنِى بِمَا عَلَمْتَنِى, وَعَلِمْنِى مَا يَنْفَعُنِى, وَزِدْنِى عِلْمًا, وَالْحَمْدُللهِ عَلَى كُلِّ حَلٍ, وَأَعُوْذُبِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ



Sumber : 

1. Al Qur’an dan terjemahannya, Khadim al-Haramain asy-Syarifain, 1971
2. 1100 Hadits Terpilih Sinar Ajaran Muhammad, Dr. Muhammad Faiz Almath, Gema Insani Press, Jakarta, cet. 17, Mei 2001
3. Buah Ilmu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Azzam, cet. 2, November 1999
4. Mendulang Faidah dari Lautan Ilmu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Al Kautsar, cet. 1, Juni 1998
5. Minhajul Qasidin, Jalan orang-orang yang mendapat petunjuk, Ibnu Qudamah, Pustaka Al Kautsar, cet. 3, Februari 1999
6. Koreksi atas Pemahaman Ibadah, Muhammad Quthb, Pustaka Al Kautsar, cet. 7, 1987
7. Al Qur’an berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Dr Yusuf Qardhawi, Gema Insani Press, Jakarta, cet. 2, April 1999
8. Terapi Penyakit dengan Al Qur’an dan As SunnahlAd Da’wad Dawa’, Al Jawabul Kafi liman Sa’ala ‘anid Dawa’i Syafi, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Pustaka Amani Jakarta, cet. 1,November 1996