Sabtu, 28 Februari 2009

Wasiat As syahid Ibnu Jarroh al ghomidy Ahmad al Haznawy


As Syahid (Biidznillah Insya Allah) :

Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy

( Salah Seorang Pelaku Peledakan Mubarok

11 September 2001 M. )

 

Biografi As Syahid :

 

Beliau adalah Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy. Dari Tanah Suci dari daerah selatan semenanjung arab, bumi para mujahidin dan syuhada’ dari daerah Ghomid.

Beliau adalah seorang hafidz dan da’I serta mujahid. Didik dirumah yang beragama dan berakhlak. Ayahnya seorang alim dan ibunya seorang da’iyah. Hatinya teikat dengan jihad, maka ia berhijrah ke bumi Afghanistan untuk beri’dad (mempersiapkan diri).

Dia adalah salah seorang diantara sembilan belas pahlawan yang berhasil melakukan serangan di New York dan Washington pada hari selasa 11 September 2001 M.

Sungguh cinta jihad dan rindu akan mati syahid telah merasuk ke dalam hati dan sanubarinya. Mengalir bersama putaran darahnya dan mendarah daging dalam tubuhnya.

 

Isi Wasiyat :

 

Aku bersumpah untuk hidup mulia, atau kuhancurkan tulangku dan aku mati.

Kepada ummat Islam …..

Kujual diriku kepada Allah dan Allah membelinya.

Kunyatakan dengan gamblang bersama mereka, darahku yang mengalir supaya sampai ke setiap telinga dan menyentuh hati.

Sebuah panggilan dariku kutujukan kepada :

Para ulama ummat dan para da’inya

Kepada para murobbi dan pendidik

Kepada saudara-saudaraku yang terbelenggu di penjara

Dan kepada saudara-saudaraku yang tidak sempat berhijrah dan berjihad karena udzur.

Kepada saudara-saudaraku yang sedang beribath di perbatasan negara Islam.

Kepada saudara-saudaraku muslimin yang tertindas di timur dan di barat.

Kepada pemuda-pemuda Al Aqsho dan pahlawan-pahlawannya.

Kepada pemuda-pemuda Kashmir

Bahkan kutujukan juga kepada setiap luka hirisan di hati setiap muslim.

Kepada mereka semua dan kepada ummat yang sedang di dzalimi. Kuucapkan :

Allah berfirman :

 

حَتَّى إِذَا اسْتَيْئَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَآءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشآءُ وَلاَيُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ

 

 “Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa”. (QS. Yusuf : 110)

Bagi orang-orang yang berfikir tentang keadaan ummat dengan pembunuhan dan penyiksaan yang terjadi keatasnya, pencabulan harga diri dan pertumpahan darah, pembunuhan keatas mereka yang tidak berdosa. Semua itu terjadi keatas ummat ini di timur dan dibarat bumi.

Lihatlah Palistina ! Meronta sejak setengah kurun dan hingga kini lukanya masih mengalirkan darah.

Dan Kashmir tidaklah terlepas dari nasib yang sama. Penyembah-penyembah sapi itu masih membunuh saudara-saudara kita di sana, dan masih banyak lagi negeri-negeri Islam yang menghadapi nasib yang sama.

Lalu siapakah yang sudi berkorban demi membela saudara-saudara kita ? dan jalan apakah yang bisa ditempuh selain jihad ? dan bagaimanakah jihad dapat di laksanakan untuk menolong mereka ? sedang masih banyak lagi yang menganggapnya hanya fardhu kifayah.

Bagiku ….. Ulama telah menerangkan bahwa asal hukum jihad memang fardhu kifayah. Tetapi menjadi fardhu ‘ain pada empat keadaan :

1.     Jika musuh menguasai salah satu negeri muslimin

2.    Jika sudah bertemu dengan bala tentara musuh di medan

3.    Jika diperintah oleh imam (pemimpin) ummat Islam maka menjadi wajib

4.    Jika musuh telah menawan salah seorang muslim.

 

Jika salah satu keadaan itu terjadi, maka jihad menjadi fardhu ‘ain ke atas ummat ini, hingga kekuatan Islam menjadi cukup atau ummat Islam akan berdosa semua.

Demi Allah ! Aku ingin bertanya kepadamu apa yang tengah terjadi di negeri-negeri ummat Islam ? penjajahan nyata itu di depan mata, tetapi kamu wahai para ulama mendiamkan walaupun penjajahan itu telah mencapai negeri Tanah Suci. Hingga kini kami belum mendengar satupun panggilan jihad darimu.

Saudara ….. ulama-ulama kita di tahan musuh, dan setiap hari kita dengar musuh menangkapi saudara-saudara kita, sedang membebaskan mereka adalah kewajiban kita. Dan kamu wahai ulama telah mengatakan hal ini dan menyepakatinya sudah berapa tahun berlalu. Sedang syaikh kita Umar Abdurrohman masih di penjara Amerika.

Itu hanya contoh ….. dan masih banyak lagi ulama-ulama kita yang senasib, tetapi kami tidak mandengar panggilan jihad darimu.

Wahai ulama ….. wahai ulama ….. wahai ulama …… Kau biarkan ini semua. Jika engkau masih enggan menyatakan kewajiban jihad, lalu siapakah yang akan menyatakannya ? dan kalau bukan sekarang waktunya lalu kapan lagi ?

Demi Allah ! aku tantang kamu semua untuk mencarikan alasan dari empat perkara tersebut bagi ummat ini yang menjadikan jihad kewajiban (fardhu ‘ain). Seperti yang telah disebutkan oleh ulama salaf dan kamu menyepakatinya tetapi tidak kamu laksanakan.

Jika alasanmu adalah karena wujudnya penguasa-penguasa thoghut yang laknat dan mempunyai senjata, maka siroh nabi shollallahu ‘alaihi wasallam telah menjadi contoh terbaik bagi kita, ketika beliau ditekan oleh kaummnya beliau diperintahkan untuk berhijrah untuk menegakkan negara Islam yang kemudian besiap (I’dad) untuk jihad. Beliau bukan duduk diam dan bersedekap tangan dan tetap tinggal diam di bawah kekuasaan Quraisy, dan keadaan kita sekarang tidak jauh dari keadaan beliau shollallahu ‘alaihi wasallam.

Di Afghonistan, hari ini hukum syari’at dilaksanakan di bawah kepemimpinan Tholiban. Semoga Allah melindungi  dan meneguhkan hati mereka. Negeri ini membuka bagi para muhajirin yang ingin beribath, beri’dad dan berjihad, baik dari golongan ulama atau pemuda mujahidin.

Kami telah bosan hidup di bawah kedzaliman dan kejahatan. Pemerintah-pemerintah yang  kononnya menawarkan diri dengan Islam, sedangkan dia sangat  jauh dari hakikat Islam, ia murtadz dari agama Allah ….. bahkan berani melaksanakan hukum buatan manusia yang dibuat oleh Doktor-Doktor.

Inilah keadaan negara-negara arab yang dahulunya di bawah naungan hukum Islam berkurun-kurun lamanya yang telah dibayar dengan jiwa dan nyawa para shahabat hinga mencapai lautan pasifik dan dia berkata : “Demi Allah ! kalau aku tahu di seberang sana ada daratan pasti kan ku datangi dengan kudaku ini”. Tetapi kemudian ….. kita dipimpin oleh thoghut-thoghut yang murtadz yang menjalankan hukum selain hukum Allah. Mereka ganti hukum Rob kita dengan hukum buatan manusia yang keji dengan tujuan mencari muka di depan si kafir, lalu kemulian apakah yang lebih tinggi dari kerelaan Amerika kepadamu ? lalu kemuliaan apakah yang lebih tinggi dari kerelaan Amerika kepadamu ? dan kamu menjadi gundik yang paling dicintai. Dan pemenang perlombaan ini adalah Fahd bin Abdul Aziz bersama saudaranya Abdullah dan sultan dan Raif dan Salman, semoga Allah memerangi mereka. Mereka masukkan tentara-tentara kristen ke tanah suci dengan alasan politik yang kotor, yang semua itu hasil kerjasama Abu Righol dan saudara-saudaranya. Mereka salahi perintah-perintah nabi kita Shollallahu ‘alaihi wasallam : “Keluarkan orang-orang musyrik dari Jazirah arab “. Mereka jajah negeri kita dan kiblat ummat Islam di siang bolong, mereka rampok hasil bumi Islam dengan bantuan pemerintah murtadz di Jazirah arab, lalu semua itu dilakukan keluarga Saud hanya untuk mendapat kerelaan Amerika. Dan akhirnya mereka dapatkan cita-cita itu, maka datanglah orang-orang Amerika yang jumlahnya antara 40 hingga 45 ribu tentara salib di tambah dengan pembantu-pembantu mereka dari Inggris dan Prancis untuk membentengi tentara-tentara salib itu, bahkan mereka izinkan di bumi suci yang dimuliakan dengan kiblat muslimin.

Lalu hidup yang bagaimana harus kulaui setelah kononnya tentara Amerika membelaku. Kemuliaan yang bagaimana dan harga diri yang bagaimana. Dan bagaimana aku bisa menolong agamaku, dan bagaimana aku bisa mengangkat kemuliaan ummatku, sedangkan hidup di bawah pemerintahan  Amerika di Tanah Suci dan keluarga Saud hanyalah boneka yang dipermainkan semuanya. Lalu apa yang harus kami lakukan ? mereka jual tanah air kami dan kiblat umat Islam dan mereka jadikan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai barang jualan. Jika mereka suka ….. mereka buang jauh-jauh.

Dan yang sangat disayangkan ….. ada ulama-ulama yang masih menganggap mereka sebagai pemimpin muslim yang wajib dita’ati. Karena itulah kami berhijrah dan beri’dad untuk berjihad untuk mengusir tentara kristen itu dari Tanah Suci bahkan dari seluruh tanah air ummat Islam. Dan keturunan keluarga Saud sangat jelas dalam masalah ini, hukum Islam yang mereka laksanakan di Tanah Suci hanya berjalan keatas orang-orang yang lemah saja. Adapun keluarga kerajaan terkecuali dari hukum hakam ini.

Dan persetujuan mereka terhadap UUD kafir yang jelas yang telah difatwakan kekufurannya oleh syaikh Muhammad bin Ibrahim Ali Syaikh rhohimahullah, dan ruang kementrian perniagaan dan ekonomi menjadi saksi, dan mereka perbolehkan riba bahkan mereka buat bangunan terbesar untuk memerangi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dan mereka terang-terangan disaksikan oleh dunia sebagaimana yang disebutkan para ulama bahwa antara hal-hal yang membatalkan ke-Islaman seseorang adalah membantu kaum musyrikin untuk menguasai kaum muslimin, dan sesiapapun yang mendalami masalah ini pasti akan menemuinya, lalu dengan melihat semua ini, apakah jihad masih fardhu kifayah ? lalu apkah darah-darah saudar-sudara kita masih murah ? sedangkan ia sangat berharga di sisi Rob kita Subahnahu Wa Ta’ala. Dalam hadits musthofa shollallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : “Walau Ka’bah runtuh batu demi batunya adalah lebih ringan bagi Allah dari darah muslim yang tertumpah”.

Lalu mana penghormatan kepada agama ini ? dan rasa kesatuan ummat ? adakah perasaan ini harus hilang dari 1,5 milyar muslim di dunia ? yang masih tersungkur di kaki thoghut-thoghut dan golongan murtadz. Apakah perasaan itu hilang bersama jatuhnya khilafah Islam ? apakah ketergantungan dengan dunia telah menghapus perasaan itu ? atau dinar dan dirham telah mematikan hati hingga tidak bisa lagi memahami duduk permasalahan ini, hingga  oleh para ulama dan pemimpin-pemimpin ummat ? ataukah semua ini adalah bahasa yang menceritakan keadaan ummat kami. Lalu apa jalan keluar semua permasahan ini ? tiada jalan lain kecuali para ulama dan golongan yang dipercaya ummat berpegang dengan al haq serta melaksanakannya dan melaksanakan hukum syari’at Robnya kemudian kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan menghidupkan kembali ibadah yang terlupakan, yaitu ibadah Jihad.

Tetapi ummat ini tidak akan dapat melaksanakannya kecuali setelah mereka memahami bahwa dunia dan seisinya tidaklah lebih berharga dari sayap nyamuk. Kalaulah dunia ini berharga pasti Allah tidak memberikan sedikitpun air kepada orang-orang kafir apalagi dunia ini fana.

Perlu anda ketahui bahwa semua kekuatan golongan murtad dan kafir itu tidaklah ada harganya dihadapan kekuatan Allah karena kekuatan itu mutlak milik Allah saja, yang diberikan kepada golongan yang berpegang dengan syari’at-Nya. Walau mereka buat berbagai macam jenis meriam atau bom-bom nuklir atau tehnologi mutaakhir yang telah mereka capai sesungguhnya kami mempunyai yang lebih besar dari yang semua itu, yaitu firman Allah Ta’ala :

 

إِنَّمَآ أَمْرُهُ إِذَآأَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

 

“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:"Jadilah!" maka terjadilah ia”. (QS. Yasin : 82).

 

Lalu bagaimana orang-orang yang bersama Allah bisa menjadi lemah ? maka talaklah dunia ini, dan berzuhudlah.

Demi Allah dunia ini hina, ia hanyalah nikmat yang menipu. Kau cintai dunia ini berarti bukan dapat lari dari mati dan pergi berjihad bukan berarti mendekati mati. Yang pasti, mati akan tiba, maka pilihlah mati yang bagaimana mati yang kau ingini. Apakah kamu ingin mati di atas kasurmu seperti matinya onta di kandangnya ? atau kau memilih mati syahid ? mulia setelah kau sahut panggilan-Nya dengan segera dan kau jujur dalam mencari syahid dalam rangka mencapai ridho Allah, yaitu syahid yang menjadi cita-cita setiap muslim yang cintakan agamanya setelah ia maju bergerak memukul musuh-musuh Allah dan membalaskan dendam saudara-saudaranya dan agamanya . lalu mana orang-orang yang bercita-cita tinggi ? yang memikul nyawanya untuk dipersembahkan kepada Rob mereka, maka golongan ini selalu berkata :          Bawalah aku ke medan pertempuran itu  supaya aku dapat menjual diriku ini demi agama ini”.

Dan musuh utama kita kali ini, adalah berhala Hubal  zaman ini yang disembah oleh penguasa-penguasa negara-negara arab dan dia menguasai dunia dengan kesombongan dan keangkuhan. Permusuhan Rusia di Chechnya adalah dengan kerelaannya begitu juga serangan tentara kristen di Indonesia dan golongan Hindu di Kashmir adalah dengan kelicikannya dan keberadaan orang yahudi di bumi Palestina  dengan semua apa yang mereka lakukan dan penjajahan masjidil Aqsho tentu dengan persetujuan dan taktik licik yang teratur rapi olehnya, dia jajah seluruh negara, walau tidak harus berwujud tentara tetapi dengan penguasa yang mahu mentaatinya. Penjajahan Tanah Suci berlangsung hingga kini dengan alasan serangan Irak ke Kuwait, mereka datang dengan alasan menjaga keamanan maka mereka masuk ke tanah suci dengan bantuan Abu Righol dan saudara-saudaranya. Yang konon mengaku membela kiblat ummat Islam. Tiadak adakah lagi pahlawan pada ummat ini ? apakah ummat ini sudah tidak bisa lagi melahirkan pahlawan yang membela kiblatnya ? buktinya hingga kini belum ada perlawanan secara langsung ke atas berhala Hubal ini (Amerika), maka kami fikirkan untuk membukanya.

Musuh semakin ganas, semakin hari kita dengar kematian saudara-saudara kita.

Demi Allah kami tidak menemukan jalan keluar dari tekanan ini setelah kami tanyakan kepada para ulama yang telah ikut berkecimpung dalam jihad, seperti syaikh Hamud bin  ‘Uqla  As Syu’aibi (rhohimahullah) dan Abdullah bin Jibrin dan syaikh Sulaiman Al ‘Ulwan dan syaikh Hasan Ayyub dan syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mukhtar As Syingkity dan syaikh Usamah bin Muhammad bin  Ladin dan syaikh Abu Umar Saif, semoga ‘Allah menjaga mereka dan menjaga  ummat ini dengan ilmu mereka. Mereka tunjukkan bahwa jalan keluarnya adalah operasi Istisyhadiyah (Bom Syahid) ke atas titik-titik penting musuh dan pusat pengendalian tentaranya. Yang hasilnya sangat kelihatan setelah dua serangan ke atas kedutaan Amerika di Nairobi dan Darussalam dan setelah peledakan Kapal Distroyer Amerika USS COLE di Yaman, yang ketika itu dalam perjalanan ke lautan Kuwait untuk menyerang saudara-saudara kita di Irak. Ulama-ulama tersebut telah menfatwakan kepada kita bahwa operasi seperti itu dibolehkan oleh syari’at, dan itu bukanlah bunuh diri, akan tetapi mencari syahid fie sabiilillah. Karena serangan ke atas musuh tidak akan tercapai kecuali melaui jalan ini dan dalil-dalil mereka sangat banyak, antaranya kisah Ghulam yang menunjukkan si Raja dzalim untuk membunuhnya. Dan para ulama tidak menjulukinya dengan “Bunuh Diri”.

Dan sebagai penutup wasiatku ini : Aku ulangi panggilanku ini kepada para ulama dan para da’I, Aku ulangi panggilanku ini kepada para ulama dan para da’I, kepada pemuda sholih yang tidak mempunyai udzur untuk berjihad untuk menolong Diennya. Kepada mereka yang berpaling dari medan-medan jihad, khususnya di tanah suci dan di seluruh dunia pada umumnya.

Aku katakan : “ Jika kalian senang dengan kehidupan hina ini dan kamu merasa kesulitan  untuk berhijrah dan mengangkat senjata, maka tolonglah kami walaupun hanya dengan lisan, dan jangan biarkan kami dan hiaslah kemuliaan ummat ini dengan pena-penamu sepanjang zaman, kalau kamu enggan ….. maka kita akan bertemu di hadapan Rob kita nanti di hari yang berat, hingga si anak menjadi tua, tetapi hari itu adalah hari yang adil, maka persiapkanlah untuk hari itu”.

Adapun bagiku ….. aku tidak rela hidup dalam kehinaan sedikitpun sebagaimana teman-temanku yang masih rela hidup seperti itu, dan diriku menuntut untuk hidup mulia dengan ajaran Robnya, walaupun harus ku bayar dengan hijrah dan hidup jauh dari saudara-saudara.

Lihatlah ! medan-medan itu telah terbuka, dan surga-surga telah dipersiapkan, maka aku berangkat untuk menyerang Amerika yang menjadi musuh Allah, yang pasti akan aku lakukan di kandang mereka sendiri, maka aku akan mati sebagai syahid setelah membunuh musuh-musuh Islam, maka aku keluar mencari tempat latihan untuk membunuh orang-orang Amerika dan musuh-musuh agama demi membela agama ini dan membalaskan darah saudaraku yang tertumpah.

Demi Allah aku tidak akan rela dengan darah saudara-saudara kami yang mengalir di Pelistina yang ditumpahkan oleh tangan-tangan yahudi anak-anak kera itu. Dan aku tidak akan lupa dengan darah-darah saudara kami yang tertumpah di Kashmir, Philipina dan di Burma dan negara-negara muslim lainnya. Maka berangkatlah kami, sedang lisan kami selalu bekata : “Kami berangkat menuju mati dengan bangga sebagaimana Singga lapar keluar dari hutannya, kami lalui berbagai kilatan pedang hingga sampai ke pintu cita-cita. Ummatku dan mengetahui bahwa kami sebenarnya melalui berbagai bahaya sambil mendendang ummat, maka kami keluar tinggalkan keluarga kami untuk menyampaikan risalah yang tertulis dengan darah agar sampai ke seluruh dunia, baik kawan atau lawan, yang jauh atau yang dekat, yang mulia atau yang hina, yang jujur atau yang dusta”.

      Dan semuanya berisi surat :

Ya Allah ! Ambillah darah kami demi kerhedhoan-Mu “

 "Ya Allah ! Jangan kau jadikan jasad-jasad kami di kandang kubur, atau tanah manapun menutupinya, atau lahad yang melindunginya, supaya ia bangun di hari kiamat nanti bersama kejayaan dan surga abadi" .

Dan keberuntungan sebuah surat yang berisi : “Zaman perbudakan dan kehinaan telah berakhir, sudah waktunya membunuhi orang-orang Amerika di kandang mereka sendiri bersama kekuatan tentara mereka dan intelejen mereka, sudah waktunya kita tunjukkan kepada dunia bahwa Amerika telah memakai baju yang bukan miliknya ketika ia berniat melawan mujahidin, dan kekuatan  itu hanya tipuan nyata di media masa yang dihiasai dengan berbagai macam kalimat-kalimat dusta dan kotor, hingga kelihatan besar dan menakutkan dunia, dan ternyata dia berhasil, tetapi hakikatnya adalah seperti yang anda lihat sendiri kami perangi mereka dari luar kandang mereka dan kini akan kami perangi mereka di dalam kandang mereka sendiri, lalu mana kekuatan tentara itu dan kekuatan tehnologi mereka ? mengapa tidak melindungi mereka ?”.

 Sebuah surat yang berisi : “Kalau Amerika ingin menyelamatkan negaranya dan rakyatnya maka keluarlah dari tanah ummat Islam dan kiblat mereka dan kini akan terbukti bahwa Amerika tidak akan mampu menghadapi golongan mujahidin di seluruh dunia selagi pada ummat ini masih ada pemuda-pemuda yang membelanya. Dan ketahuilah bahwa rahim-rahim ibu-ibu muslimah tidaklah mandul untuk melahirkan lagi pemuda seperti Kholid bin Walid dan Sholahuddien Al Ayyubi, begitu juga syaikh Abdullah Azzam yang telah mengorbankan dirinya demi Islam, semoga Allah merahmati mereka semua”.

Sebuah surat yang berisi : “Jika Abdullah Azzam telah terbunuh sebagai syahid, maka ketahuilah ummat ini masih mempunyai seribu Abdullah Azzam. Jika Yahya Ayyas telah terbunuh sebagi syahid, maka ummat ini masih mempunyai seribu Yahya Ayyas. Walau masih ada Usamah bin Ladin atau mungkin akan mati terbunuh, maka ummat ini masih mempunyai seribu Usamah bin Ladin. Maka tunggulah wahai Amerika, mereka sudah bosan banyak berbicara tetapi kata-kata mereka itu ingin di garis bawahi dengan darah mereka, dan mereka tuliskan dengan potongan-potongan daging mereka supaya Amerika dan kawan-kawannya memahami bahwa mereka jual ruh mereka (sesuatu yang paling mahal pada dirinya) demi mencapai surga yang berisi kenikmatan abadi”.

Dan lisan mereka berkata : “Aku bersumpah untuk hidup dengan mulia dengan harga diri atau tulangku hancur ditelan perjuangan”.

Sebuah surat yang berisi : “Aku telah bosan hidup dalam kehinaan silahkan Amerika meneruskannya untuk menanam takut di hati rakyatnya sendiri dan tentara mereka, dan merasa rugi dan celaka yang dilontarkan mujahidin yang jujur. Kelakuanmu telah melampoi batas kami tidak dapat menahannya lagi.

Hai orang-orang Amerika ! Persiapkanlah peti-peti matimu dan galilah kubur-kuburmu sejak sekarang, kematian telah dekat denganmu dengan izin Allah, dan galilah kubur-kubumu sejak sekarang, persiapkanlah peti-peti matimu kematian telah dekat denganmu dengan izin Allah”.

 

Ya Allah ! Jatuhkanlah negara  kafir itu ke-tangan kami, dan bangunkanlah Daulah Islam dengan potongan-potongan daging kami supaya kami dapatkan pahalanya dan balasannya nanti.

Ya Allah ! Jadikanlah kami golongan yang dengan kematian mereka ummat ini akan bangkit.

Ya Allah ! Kujual diriku kepada-Mu, maka terimalah aku sebagai syahid.

Ya Allah ! Kujual diriku kepada-Mu, maka terimalah aku sebagai syahid.

Ya Allah ! Kujual diriku kepada-Mu, maka terimalah aku sebagai syahid.

Ayolah bersegera mencapai surga sebagai tempat tingga yang di dalamnya terdapat kemah-kemah dan sampai jumpa di surga bersama para nabi dan syuhada dan orang-orang yang jujur (shiddiqin).

Dan akhirnya kami ucapkan Al Hamdulillah.

 

Wassalaamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokaatuh

 


Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy

 

Wasiat As syahid Abdullah 'Azzam


WASIAT HAMBA ALLAH

YANG FAQIR DI HADAPAN ALLAH

AS SYAHID ABDULLAH ‘AZZAM

 

 

Suatu sore, senin 12 Sya’ban 1406 H. bertepatan dengan 20 April 1986 M. sepulang dari rumah kediaman syeikh Jalaluddien Haqqoni, kutulis kata-kata ini :

Segala puji bagi Allah, hanya kepada-Nya kita memuji, memohong pertolongan, memohon ampunan, serta memohon perlindungan dari kejahatan jiwa kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi peunjuk oleh Allah, maka tiada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tiada seoarang pun jua yang bisa memberi petunjuk kepadanya.

Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Ya Allah ! Tiada kemudahan selain yang telah Engkau jadikan mudah, dan jika Engkau berkehendak, niscaya kesedihan akan Engkau jadikan kemudahan.

Kecintaan kepada jihad benar-benar telah melekat pada diri dan hidupku, jiwa dan perasaanku, serta hati dan inderaku.

Ayat-ayat muhkamat dalam surat at taubah yang menerangkan kewajiban jihad dalam Islam, benar-benar telah memeras kesedihan hatiku untuk mencabik-cabik jiwaku dengan duka, sedangkan aku sadar akan kekuranganku dan kekurangan kaum muslimin terhadap kewajiban jihad di jalah Allah ini.

Ayat tentang kewajiban mengangkat pedang telah memansukh (menghapus) lebih kurang 120 atau 140 ayat sebelumnya yang berbicara tentang jihad. Ini benar-benar merupakan bantahan yang telak dan jawaban yang tuntas bagi orang yang mau bermain-main dengan ayat-ayat Allah yang berkenaan dengan perang di jalan Allah. Juga buat orang yang begitu berani mentakwilkan ayat-ayat muhkamat atau berani membelokkan arti dhohir yang qoth’ie baik maksud maupun keabsahannya.

Diantara ayat-ayat yang berkaitan dengan kewajiban melaksanakan jihad tersebut adalah :

 

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

 

“ ….. dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa “. (QS. 9:36).

 

فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

 

“ Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyirikin di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “. (QS. 9:5).

Mencari-cari alasan untuk tidak berjihad dengan alasan yang bermacam-macam akan mengotori jiwa. Maka merelakan diri untuk tidak berjihad fie sabilillah merupakan sendau gurau dan main-main bahkan mempermainkan agama Allah. Padahal kita diperintahkan berpaling mengjauhi orang-orang seperti mereka, sesuai firman Allah :

 

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا

 

“ Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikabn agama mereka sebagai main main dan sendau gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia “. ( QS. Al An’am : 70).

 

Sesungguhnya mencari-cari alasan dengan angan-angan tanpa melakukan i’dad adalah kondisi jiwa yang kerdil yang tiada punya semangat merengkuh puncak gunung.

 

إِذَا كَانَتِ النُّفُوسُ كِبَارًا

تَعِبَتْ مِنْ مُرَادِهَا اْلأَجْسَامِ

 

“ Jika semua itu memang jiwa yang besar

bersusah payahlah badan karena cita-citanya “.

 

Duduk-duduk berdampingan di masjidil Harom dan memakmurkannya dengan berbagai amal ibadah tidak mungkin dapat dibandingkan dengan jihad di jalan Allah. Dalam hadits shohih muslim diriwayatkan, ketika para shahabat berselisih pendapat tentang amal yang paling utama sesudah iman, “ Memakmurkan Masjidil Harom (adalah amalan yang paling utama) “.Yang lain berkata, “ Bukan ! Tapi (amalan yang paling utama adalah) memberi minuman orang-orang yang beribadah haji “. Yang lain lagi berkata, “ Bukan ! Tapi jihad di jalan Allah “.

Dengan adanya peristiwa itu maka turunlah ayat 19 hingga 22 surat At Taubah.

 

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَآجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللهِ لاَيَسْتَوُونَ عِندَ اللهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ {19} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللهِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْفَآئِزُونَ {20} يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمُُ مُّقِيمٌ {21} خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا إِنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ {22}

 

“ Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah. Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Rabb mereka mengembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhoan dan jannah, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalanya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar “. (QS. 9:19-22)

 

Jadi, jelaslah bahwa jihad di jalan Allah itu lebih besar derajat dan pahalanya dibanding memakmurkan Masjidil Harom, khususnya kalau dilihat dari sebab turunnya ayat, yaitu adanya perselisihan pendapat di antara para shahabat seputar masalah ini.

Asbabun Nuzul (sebab turunnya) ayat ini tidak boleh dikhususkan untuk masalah lain, atau dita’wilkan (dipahami dengan arti jihad yang lain, umpamanya jihad melawan hawa nafsu – pent.) sebab di dalam nash tersebut sudah terdapat makna yang qoth’i.

Dan semoga Alloh merahmati Abdulloh ibnul Mubarok. Suatu ketika beliau berkirim surat kepada Al Fudzail bin ‘Iyadl, ia berkata :

يَاعَابِدَ الْحَرَمَيْنِ لَوْ أَبْصَرْتَنَا

لَعَلِمْتَ أَنَّكَ بِالْعِبَادَةِ تَلْعَبُ

مَنْ كَانَ يَخْضِبُ خَدَّهُ بِدُمُوعِهِ

فَنُحُورُنَا بِدِمَائِنَا تَتَخَضَّبُ

“ Wahai orang yang beribadah di Masjid Haromain

Seandainya engaku mengerti keadaan kami teىntu engkau tahu bahwa

Engkau bermain-main dengan ibadah itu

Kalau orang pipinya dilinangi genang air mata

Maka pangkal leher kami dilumuri darah yag tertumpah “

 

Tahukah anda pendapat seorang yang ahli fiqih, ahli hadits dan sekaligus mujahid ini (yaitu Abdullah bin Mubarok) tentang orang yang duduk-duduk bersanding di Masjid Harom, beribadah di dalamnya, sedang saat-saat yang sama tempat-tempat suci Islam dihancurkan, darah kaum muslimin ditumpahkan, kehormatan mereka diinjak-injak dan dihinakan serta Agama Allah dicabut sampai akar-akarnya ! Saya katakan bahwa beliau berpendapat,  “…. Itu adalah bermain-main dengan Agama Allah ….. “.

Benar, membiarkan kaum mulimin dibantai, dibunuh dengan semena-mena – disuatu negeri nun jauh di sana – sedangkan kita hanya membaca Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un dan Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billahil ‘Aliyyil ‘Adzim sambil membuka telapak tangan kita dari  jarak jauh tanpa terdetik di hati kita untuk tampil membela mereka, sungguh ini adalah bermain-main dengan agama Allah serta mengumpatkan kedustaan dan kebekuan hati serta menipu diri sendiri.

 

كَيْفَ الْقَرَارُ وَكَيْفَ يَهْدَأُ مُسْلِمٌ

وَالْمُسْلِمَاتُ مَعَ الْعَدُوِّ الْمُعْتَدِي

 

“ Bagaimana tetap tinggal diam,

dan bagaimana hati seorang muslim tetap tenang

sedang kaum muslimat bersama musuh yang kejam “.

 

Saya berpendapat – seperti yang telah saya tuliskan dalam kitab Ad Difa’ ‘An Arodhil Muslimin ahammu Furudhul a’yan (Terj. Membela Bumi Kaum Muslimin Adalah Fardhu Ain yang Paling Utama)- Dan sebelum saya berpendapat seperti ini Ibnu Taimiyah telah berpendapat seperti ini. Beliau mengatakan bahwa jika musuh menyerang dan membinasakan seluruh urusan Dien dan dunia, maka tidak ada saat itu yang paling wajib setelah iman selain melawan mereka.

Saya berpendapat – sekarang ini – tidak ada bedanya antara orang yang meninggalkan jihad dengan orang yang meninggalkan sholat, puasa dan zakat ?

Saya berpendapat semua penghuni dunia memikul tanggung jawab di hadapan Allah kemudia dihadapan sejarah.

Saya berpendapat tidak ada alasan yang bisa diterima untuk meninggalkan jihad, baik alasan berda’wah, sibuk mengarang, sibuk mendidik dan sebagainya.

Saya berpendapat di atas leher setiap muslim di dunia ini sekarang ini terikat beban dan tanggung jawab disebabkan mereka meninggalkan jihad (perang di jalan Alloh). Dan semua orang Islam telah memikul dosa karena enggan memanggul senjata.

Jadi, setiap orang yang berjumpa dengan Alloh – selain ulid dzhoror – sedangkan tidak ada senjata ditangannya, ia berjumpa Alloh dengan menanggung dosa karena dia meninggalkan perang. Karena hukum perang sekarang ini adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim di muka bumi – selain orang-orang yang mempunyai udzur- . Sedangkan orang yang meninggalkan kewajiban itu berdosa karena kewajiban itu definisinya adalah perbuatan yang pelakunya mendapat pahala dan orang yang meninggalkannya akan dihisab atau berdosa.

Sesungguhnya saya berpendapat – wallohu a’lam – sesungguhnya orang yang dimaafkan Alloh dalam meninggalkan jihad adalah orang buta, orang pincang, orang sakit dan orang-orang lemah dari kalangan laki-laki, perempuan dan anak-anak yang tidak bisa berupaya dan tidak tahu jalan. Maksudnya tidak bisa berpindah ke medan perang dan tidak tahu jalan menuju ke sana. Maka berdosalah orang-orang yang meninggalkan tugas perang, baik di Palestina atau Afghanistan atau di belahan bumi manapun yang diinjak dan dinodai oleh orang-orang kafir dengan najisnya.

Dan saya berpendapat pada hari ini tidak diperlukan lagi ijin kepada siapapun untuk berperang atau berjihad di jalan Allah tidak perlu ijin orang tua bagi anaknya, suami bagi istrinya, atau orang yang menghutangi bagi orang yang berhutang, guru bagi muridnya, serta ijin pemimpin bagi yang dipimpinnya.

Ini adalah ijma’ seluruh ulama di segala zaman. Bahwa dalam keadaan seperti ini seorang anak pergi berperang tanpa ijin orang tuanya dan seorang perempuan pergi berperang tanpa ijin suaminya, barangsiapa berusaha mencari-cari kesalahan dalam permasalahan ini benar-benar ia telah melampaui batas dan berbuat zalim, serta mengikuti hawa nafsu tanpa berdasarkan petunjuk dari Allah.

Masalah ini sudah cukup gamblang dan tegas yang di dalamnya tiada lagi kekaburan atau kerancuan. Karena itu tidak ada peluang bagi siapa pun untuk membelokkan, menyelewengkan, atau bermain-main dengannya dan menta’wilkannya.

Sesungguhnya amiirul mu’minin tidak dimintai ijin untuk berjihad dalam tiga keadaan :

1.     Bila ia menihilkan jihad

2.    Bila ia menutup perijinan untuk berjihad

3.    Bila sebelumnya kita telah ketahui bahwa ia akan menolak permohonan ijin.

 

Saya berpendapat bahwa kaum muslimin pada hari ini bertanggung jawab atas setiap kehormatan yang dinodai di Afghanstan dan sertiap darah yang tercucur di sana. Sesungguhnya – wallohu a’lam – mereka semuanya berperan dalam menumpahkan darah di Afghanistan sebab mereka kurang memperhatikan, sedangkan kaum muslimin mampu mengirim senjata untuk membela mereka, atau dokter untuk mengobati mereka, atau harta untuk membeli makanan atau buldoser untuk menggalikan parit perlindungan bagi mereka.

Dalam Hasyiyah Ad Dasyuki As Syarkhil Kabir halaman 111 – 112 juz II diterangkan :

“ Orang yang memiliki kelebihan makanan dan melihat seseorang kelaparan (tapi) ditinggalakan sampai mati, kalau orang yag memiliki makanan itu mengira orang yang kelaparan itu tidak mati, maka ia harus mambayar diyatnya (denda) dari harta kerabatnya. Dan kalau sengaja membiarkan mati maka ada dua riwayat dalam madzhab (pertama) dia harus membayar diyat dari hartanya sendiri, dan (pendapat kedua) dia harus diqishos mati, karena dia (hakikatnya) adalah pembunuh “.

Maka, hisab dan siksa macam apakah yang sedang dinanti oleh orang-orang yang memiliki kekayaan dan harta benda, lalu ia salurkan harta tersebut untuk bersenang-senang dan membelanjakan sia-sia hanya demi menuruti hawa nafsu dan kemewahan itu ?

 

 

 

 

 

WAHAI KAUM MUSLIMIN

 

Hidup kalian adalah jihad, kemuliaan kalian adalah jihad, serta wujud dan eksistensi kalian terikat erat dengan jihad.

 

WAHAI PARA JURU DAKWAH !

 

Tiada arti dan nilai hidup kalian jika kalian tidak mengayunkan pedang untuk membabat kesuburan para  thoghut, kaum kuffar dan para penindas.

Sesungguhnya orang-orang yang mengira bahwa Islam ini bisa menang tanpa jihad dan perang, tanpa pertumpahan darah dan serpihan-serpihan daging mereka, sebenarnya mereka itu dalam kekaburan dan tidak mengerti tabiat naluri Dinul Islam.

Wibawa para juru dakwah, kekuatan dakwah dan kejayaan kaum muslimin tidak bakal terwujud tanpa perang.

Rosulullah shollAllahu ‘alaihiw asallam bersabda :

 

وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ قُلُوبِ أَعْدَاءِكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ قَالُوا وَمَا الْوَهْنُ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ. وَفِي رِوَايَةٍ كَرَاهِيَةُ الْقِتَالِ

“ Dan benar-benar Allah akan mencabut rasa takut dari musuh-musuh kalian, dan melemparkan penyakit wahn ke dalam hati kalian ! para shahabat bertanya : Apakah penyakit wahn itu ya Rosul Allah ! beliau menjawab : “ Cinta dunia dan benci dengan kematian “. Dalam riwayat lain, “ benci dengan peperangan “.

 

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 

فَقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ لاَ تُكَلَّفُ إِلاَّ نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَسَى اللهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاللهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَاَشَدُّ تَنْكِيْلاً

“ Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya) “. (QS. 4:84).

 

Kemusyrikanpun akan merajalela dan berjaya jika tidak ada perang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَتَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ للهِ

 

“ Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah ”. (QS. Al Anfal : 39).

Dan yang dimaksud dengan fitnah di sini adalah kemusyrikan.

 

Sesungguhnya jihad merupakan jaminan satu-satunya bagi kebaikan di permukaan bumi ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَوْلاَ دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ اْلأَرْضُ

“ Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebagaian yang lain, pasti rusaklah bumi ini ”. (QS. Al Baqoroh : 251).

Sesungguhnya jihad juga merupakan jaminan satu-atunya guna memelihara syi’ar-syi’ar dan tempat-tempat peribadahan :

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 

وَلَوْلاَ دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدَ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللهِ كَثِيرًا

 

“ Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah ”. (QS. Al Haj : 40).

 

WAHAI PARA JURU DAKWAH ISLAM !

 

Gandrungi dan kejarlah kematian, nisacaya kalian akan dikaruniai kehidupan. Janganlah terpedaya oleh angan-angan, dan janganlah tertipu oleh apapun dalam mentaati Alloh.

Janganlah kalian sampai tertipu dengan kitab-kitab yang kalian baca, dan dengan ibadah-ibadah sunnah yang kalian tekuni. Kesibukan kalian dalam urusan-urusan kecil yang membuai hati jangan sampai melupakan kalian dari masalah-masalah yang besar dan agung,

وتودون أن غير ذات الشوكة تكون لكم...

…dan kalian menginginkan bahwa yang tanpa senjatalah yang akan kalian hadapi…

Janganlah kalian mentaati siapapun dalam urusan jihad. Tidak perlu ijin dari komandan untuk pergi berjihad. Sesungguhnya jihad itu adalah penegak dakwah kalian dan benteng agama kalian serta perisai syari’at-syari’at kalian.

 

WAHAI ULAMA ISLAM !

 

Tampillah memimpin generasi yang sedang kembali kepada jalan Robnya ini, dan janganlah takut menegakkan Dien, janganlah gandrung dan cinta kepada dunia serta jagalah diri kalian, jangan sampai mencicipi hidangan-hidangan thoghut, karena hal itu akan menjadikan hati kalian gelap dan mati, akan menjadi dinding pemisah bagi kalian dari generasi ini, serta penutup antara hati kalian dan hati mereka.

 

WAHAI KAUM MUSLIMIN !

 

Telah lama tidur kalian. Burung-burung pipit telah menjelma menjadi burung-burung Elang di bumi kalian. Alangkah indahnya makna bait-bait puisi ini :

طَالَ الْمَنَامُ عَلَى الْهَوَانِ فَأَيْنَ زُمْرَةِ اْلأُسُودِ

وَاسْتَنْسَرَتْ عُصْبَ الْبُغَاتِ وَنَحْنُ فِي ذُلِّ الْعَبِيْدِ

قِيْدُ الْعَبِيْدِ مِنَ الْجُنُوعِ وَلَيْسَ مِنْ زَرْدِ الْحَدِيْدِ

فَمَتَى نَثُورُ عَلَى الْقُيُودِ مَتَى نَثُورُ عَلَى الْقُيُودِ

“ Kian panjang tidur terlena dalam kehinaan

dimanakah gerangan barisan singa itu

sementara burung-burung pipit telah menjelma menjadi Elang

sedangkan kita terbelenggu bagai budak

belenggu  budak itu berupa buhul nestapa

bukannya rantai dari besi

lalu, kapan kita berontak belenggu itu ?

kapan kita berontak belenggu itu?!

 

WAHAI KAUM WANITA !

 

Jagalah diri kalian dari kemewahan, karena kemewahan adalah musuh jihad. Kemewahan mengkerdilkan jiwa manusia. Hati-hatilah terhadap keadaan yang berlebih-lebihan. Cukuplah dengan yang perlu-perlu saja.

Didiklah anak-anak kalian dengan kesederhanaan, dengan sifat kejantanan dan kepahlawanan serta kemauan untuk berjihad. Jadikanlah rumah kalain sebagai kandang singa, bukannya kandang ayam yang setelah gemuk dijadikan sembelihan penguasa durhaka. Tanamkanlah dalam jiwa putra-putri kalian kecintaan berjihad, mencintai lapangan pacuan kuda dan medan-medan pertempuran.

Hiduplah dengan selalu menyertai segala kesulitan kaum muslimin. Usahakan dalam satu minggu sekali – minimal – untuk hidup seperti hidupnya kaum muhajirin dan mujahidin, yaitu hanya dengan sepotong roti kering dengan lauk yang tidak berlebihan dan beberapa teguk air teh.

 

WAHAI PARA REMAJA !

 

Tumbuhlah kalian dalam desingan peluru-peluru, dentuman meriam, raungan kapal terbang dan deru suara tank. Jauhilah kenikmatan hidup, dendangan musik dan kasur-kasur yang empuk.

 

 

ADAPUN ENGKAU WAHAI ISTRIKU !

 

Sebenarnya banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu wahai ummu Muhammad. Semoga Allah melimpahkan balasan pahala kepadamu karena pengorbananmu kepadaku dan kepada kaum muslimin, juga karena dukunganmu kepadaku. Eangkau telah lama bersabar bersamaku menempuh jalan ini, dan engkau telah merasakan pahit dan manisnya hidup bersamaku. Dan engkau adalah sebaik-baik penolong bagiku dalam menempuh perjalanan yang penuh berkah ini, dan untuk berjuang di medan jihad. Engkau telah kutinggalkan di rumah sejak tahun 1969 M., pada saat itu kita baru mempunyai dua anak kecil perempun dan seorang bayi laki-laki. Engkau hidup di sebuah kamar yang terbuat dari tanah liat yang tidak ada dapur dan perabotnya. Dan kutinggalkan engkau dirumah ketika hamil tua dan bertambah anggota keluarga, anak-anak sudah mulai besar, dan semakin banyak kenalan kita dan semakin bertambah pula tamu-tamu kita. Engkau terima semua itu hanya karena Alloh kemudian karena aku. Maka semoga Alloh membalas jasamu terhadap diriku dan terjadap kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan. Kalau bukan karena Allah, kemudian karena kesabaranmu atas kepergianku yang sekian lama dari rumah, tidaklah aku mampu memikul beban begitu berat sendirian.

Benar-banar aku telah mengerti bahwa engkau seorang wanita zahidah (ahli zuhud), bagimu materi dunia ini tidak ada nilainya dalam hidupmu. Engakaupun tidak pernah mengeluh pada hari-hari yang berat karena sedikitnya uluran tangan pertolongan. Dan engkau pun tidak pernah bermewah-mewah juga tidak membanggakan diri pada hari-hari Allah membukakan sedikit pintu kenikmatan dunia. Dinia ini tidak pernah tinggal dalam hatimu, padahal sebagian besar kesempatan ada di tanganmu.

Sesungguhnya kehidupan jihad adalah kehidupan yang paling lezat, serta menahan sabar atas kesempitan lebih indah daripada bergelimang diantara bermacam-macam kenikmatan dan tumpukan kemewahan.

Berpegang teguhlah pada sifat zuhud, niscaya Allah akan mencintaimu. janganlah mencintai apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.

Al Qur’an adalah kenikmatan hiburan dalam kehidupan. Bangun sholat malam (tahajud), puasa sunnah, serta beristighfar pada waktu-waktu sahur (sepertiga malam terakhir) menjadikan hati lembut, beribadah menjadi manis. Bersahabat dengan orang-orang yang baik, tidak berlebih-lebihan di dunia, jauh dari glamour dan orang-orang yang sibuk dengan dunia semua itu akan menjadikan hati tenang..

Harapan kita hanya kepada Allah, mudah-mudahan kita dikumpulkan di Jannah Firdaus, sebagaimana Dia telah mengumpulkan kita di dunia.

 

ADAPUN KALIAN WAHAI ANAK-ANAKKU !

 

Sungguh kalian hanya mendapatkann sedikit saja dari waktuku, juga hanya sedikit pendidikan dariku.

Ya ! aku sibuk dan tidak sempat mengurus kalian. Tapi apakah yang harus aku perbuat, sedangkan bencana yang menimpa kaum muslimin seakan membuat wanita yang menyusui tak ingat akan nasib susuannya. Dan malapetaka yang menyiksa umat Islam begitu dahsyat seolah-olah jambul anak-anak muda beruban karenanya.

Demi Allah, tak kuat aku hidup bersama kalian sebagaimana induk ayam dalam sangkarnya hidup bersama anak-anaknya. Tak sanggup aku hidup dengan hati dingin sedangkan api ujian membakar hati kaum muslimin tak rela aku tinggal besama kalian sepanjang waktu sedangkan derita dan kaum muslimin merobek-robek setiap orang yang memiliki hati nurani atau masih tersisa akalnya. Tidaklah kesatria hidup diantara kalian sambil bergelimang dengan kenikmatan yang sebagian dihamparkan untukkku dan sebagian lagi diangkat, diantara tumpukan daging dan beraneka ragam jajanan.

Demi Allah, dalam hidupku aku telah membenci kemewahan baik berupa pakaian, makanan, ataupun tempat tinggal. Aku telah berusaha semampuku untuk mengangkat kalian kepada tingkatan para zahidin (ahli zuhud) dan menjauhkan kalian dari gelimangan orang-orang yang hidup dalam kemewahan.

Aku wasiatkan kepada kalian berpeganglah pada aqidah kaum salaf, yaitu aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, dan jauhilah sifat berlebih-lebihan. Aku wasiatkan kepada kalian, untuk membaca dan menghafalkan Al-Qur’an. Jagalah juga lidah kalian. Begitu juga sholat malam, berpuasa, bergaul dengan teman-teman yang baik, dan bergabunglah bersama gerakan Islam. Tapi hendaklah kalian ketahui bahwa pemimpin gerakan itu tidak berhak melarang kalian berjihad, atau mengasikkan kalian dalam bidang dakwah hingga melalaikan dari medan-medan kejantaan dan medan-medan perang. Kalian tidak perlu minta ijin kepada seorang pun untuk berjihad di jalan Allah.

Belajarlah bagaimana menghentakkan senjata dan mengendarai kendaraan perang. Tapi, menembak lebih aku sukai.

Aku wasiatkan kepada kalian, wahai anak-anakku agar kalian taat kepada ibumu, menghormati kakak-kakak perempuanmu (ummu Al Hasan dan ummu Yahya). Hendaklah kalian menekuni ilmu syari’ah yang bermanfaat. Hendaklah kalian taat kepada kakak laki-lakimu (Muhammad).

Saya nasehatkan kalian untuk saling mencintai dan berbakti kepada kakek dan nenek kalian, hormatilah keduanya. Dan berbaktilah kepada kedua bibimu (ummu faiz dan ummu Muhammad). Karena kedua beliau itu memiliki jasa dan keutamaan besar kepadaku sesudah Allah.

Sambunglah kekerabatan kita dan berbuat baklah kepada keluarga dan tunaikanlah hak persahabatan kita kepada orang yang bersahabat dengan kita

 

ADAPUN KEPADA MAKTAB AL-KHIDMAT

 

(Pada aslinya tertulis: “Saya wasiyatkan agar yang menjadi penanggung jawab setelahku adalah Abu Hudzaifah yang telah menghabiskan waktu mudanya untuk maktab ini. Khususnya dia telah menyumbangkan hartanya untuk para mujahidin. [Pada teks aslinya tidak tertulis “Wakilnya” adalah] Abu Sayyaf Fat-hi dan dibantu oleh Abu Hamzah dan Abu Hajir. Namun Syaikh Abdulloh Azzam mencoret tulisan ini. Lihat aslinya)

Dan kepada ikhwah sekalian, hendaknya mereka menjaga orang-orang yang menjadi pendahulu dalam berjihad ini, dan setiap mujahid mendapat keutamaan dengan lebih cepatnya dia berada dalam medan perang ini. Dan kepada para ikhwah hendaknya mereka menghormati para pendahulu mereka dalam jihad ini, khususnya (pada teks aslinya tertulis: Abu Hudzifah, namun Syaikh Abdulloh Azzam mencoret dengan penanya. Lihat aslinya) Usamah, Abul Hasan Al-Madani, Nurud Din, Abul Hasan Al-Maqdisi, Abu Sayyaf Dan Abu Burhan. Adapun Abu Mazin sungguh saya mengetahuinya (dalam teks aslinya tertulis; Wallohi [demi Alloh] namun Syaikh Abdulloh Azzam mencoretnya dengan penanya) dia adalah orang yang lebih bersih dari air yang turun dari langit. Dia ahli puasa, sholat malam dan bersemangat dalam berjihad. Alloh menggiringnya untuk jihad maka dia membantu dengan diam-diam. (dalam teks aslinya tertulis: “meskipun orang-orang mempeributkannya dan kalian jangan terpedaya dengan mereka” namun Syaikh Abdulloh Azzam mencoretnya dengan penanya. Lihat aslinya) dan dia adalah salah satu penopang jihad.

Tundukkanlah pandangan kalian dari ketergelinciran-ketergelinciran mereka dan jagalah posisi mereka. Dan jangan kalian lupakan keutamaan Abul Hasan Al-Madani dan perannnya dalam membantu jihad. Terimalah nasehat-nasehat Abu Hajir. Dan hendaknya dia yang mengimami sholat kalian karena dia itu lembut dan khusyu’ (pada teks aslinya tertulis; “begitu pula saudara Abul Barro’ “, namun Syaikh Abdulloh Azzam mencoretnya dengan penanya. Lihat aslinya)

Dan banyaklah mendo’akan (pada teks aslinya tertulis: “dan banyaklah mendo’akan orang-orang yang menanggung maktab ini dengan harta pribadinya” namun tulisan ini ditulis dalam kurung oleh Syaikh Abdulloh Azzam dan kami tidak tahu apakah beliau bermaksud mencoretnya atau membiarkannya. Lihat teks aslinya. Dan yang benar saudara Usamah menanggung maktab ini pada awal dimulainya kerja maktab al-khidmat ini sampai pada tahun 1986 M kemudian setelah itu beliau berhalangan untuk membantu) orang yang menanggung maktab ini dengan menggunakan uang pribadinya yaitu saudara Abu ‘Abdulloh Usamah bin Muhammad bin Ladin. Saya berdo’ah semoga Alloh memberkahi keliarga dan hartanya. Dan kami mengharap kepada Alloh untuk memperbanyak orang-orang semacam dia. Demi Alloh saya belum mendapatkan orang yang semacam dia di dunia Islam. Oleh karena itu kami berharap kepada Alloh untuk menjaga agamanya dan hartanya. (dalam teks aslinya tulisan: “semoga Alloh memberkati …. .sampai perkataannya yang berbunyi ; tiang perkemahan maktab” kalimat ini digarisbawahi dan kami tidak tahu apa maksud syaikh Abdulloh Azzam. Apakah beliau bermaksud mencoretnya atau tidak. Namun kami menguatkan bahwa beliau tidak bermaksud mencoretnya. Lihat aslinya) dqn semoga Alloh memberkati kehidupannya. Dan kalian jangan lupa bahwa Abu Hudzaifah telah benyak menanggung proyek-proyek maktab ini dengan uang pribadinya. (dalam teks aslinya kata-kata “dengan uang pribadinya” ditulis dalam kurung oleh syaikh Abdulloh Azzam, maka kami kuatkan bahwa beliau tidak bermaksud membuangnya. Lihat aslinya) maka banyaklah mendo’akannya, karena dia merupakan tiang perkemahan maktab.

 

ADAPUN KEPADA PERHIMPUNAN JIHAD !

 

Hendaklah kalian banyak memperhatikan Sayyaf, Hikmatyar, Robbani, Kholis. Karena kita mengharapkan mereka (dalam teks aslinya tertulis “keduanya”) akan melanjutkan perjalanan jihad dan memelihara agar tidak menyimpang.

Dan janganlah kalian melupakan komandan di dalam negeri, khususnya Jalaluddien, Ahmad Syah Mas’ud, Ir. Basyir, Shofiyullah ‘Afdholi, Maulawi  Arsalan,(dalam teks aslinya tertulis: “dan perbaikilah hubungan kalian dengan Nasrulloh Manshur” namun dicoret oleh Syaikh Abdulloh Azzam. Lihat aslinya) Farid, Muhammad ‘Alam dan Sir Alam (Di Bagman), serta sayid Muhammad Hanif (di Logar).

 

سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

 

" " Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Engkau, aku mohom ampun dan bertaubat kepada-Mu “.

 

 

Hari Selasa 13 Sya’ban 1406 H.

bertepatan dengan 22/4/1986 M.

 

 

( Abdullah bin Yusuf Azzam