Selasa, 17 Maret 2009

Oohh...dedikasi...


PENDEDIKASIAN

Kepada orang-orang yang terluka di jalan Allah namun mereka tidak mau berbicara, mereka merasakan kesakitan tapi tidak mengeluarkan keluhan dan mereka berjuang membela syari’at Sang Pemberi Petunjuk akan tetapi mereka tidak pernah mundur.
Kepada para pewaris darah yang merah yang telah menggoreskan tanda-tanda keagungan di sepanjang zaman…
Kepada para pemuda yang haus akan kejayaan yang di wariskan…
Kepada ummat yang bingung di persimpangan jalan…
Kepada setiap muslim yang yakin akan posisi kepemimpinan di dunia dan kebahagian di negeri tempat berlabuh…
Kami dedikasikan kepada mereka semua:
Risalah orang yang telah lalu yang kuat lagi berkobar semangat, kepada orang yang hadir yang masih muda lagi penuh kebimbangan…
Dan perbekalan orang hadir yang penuh semangat untuk masa depan yang gemilang…
Wahai para pemuda… wahai pengembara yang mencari kehidupan…
Wahai orang yang berjuang untuk membela Dienullah
Wahai orang yang mempersembahkan ruhnya di hadapan Dzat yang melindunginya…
Di sinilah hidayah dan jalan yang lurus 
Di sinilah hikmah dan pengelurusan
Di sinilah kenikmatan pengorbanan dan kelezatan Jihad
Mari segera bergabung dengan pasukan yang bisu !!!
[ ….sampai tiada lagi fitnah dan supaya Dien itu semata-mata untuk Allah…]
Di tengah-tengah suara sumbang yang ramai akibat pantulan gaung berbagai tragedi yang pahit yang di lahirkan malam-malam yang mengandung pada zaman ini
Di tengah laju gerakan yang deras lagi mengalir berupa ajakan-ajakan yang di bisikan di berbagai belahan dunia dan di bawa oleh gelombang-gelombang media halus di seluruh penjuru bumi, seraya di program dengan segala apa yang menggiurkan dan memperdaya berupa angan-angan, janji-janji dan tampilan-tampilan.
Inilah kami tampil ke depan dengan membawa ajakan…
Yang tenang, akan tetapi ia lebih kuat daripada angin topan yang menghantam !
Yang sederhana, namun ia lebih kokoh daripada gunung yang terpancang…!
Yang kosong dari tampilan-tampilan palsu dan hiasan-hiasan dusta
Akan tetapi ia ditaburi untaian Al-Haq, keajaiban wahyu dan perlindungan Allah Ta’ala
Yang bersih dari ketamakan, keinginan, tujuan-tujuan pribadi dan kepentingan-kepentingan kelompok, akan tetapi ia mewariskan kepada orang-orang yang mengimaninya dan yang jujur dalam memperjuangkan kepemimpinan di dunia dan derajat surga tertinggi di akhirat
Dan kami katakan, ini semua Insya Allah dalam rangka Tabarruk. 


Minggu, 15 Maret 2009

Wawancara Asy syahid Imam samudra...


IMAM SAMUDRA: "DEMI ALLAH, TAK AKAN SELESAI!"
________________________________________



Di penjara Kerobokan, Denpasar, Bali, sebuah sosol bernama Imam Samudra menjemput kematian seperti sebuah anugerah. Lelaki berusia 33 tahun itu berkata, "Allah telah mencabut semua keraguan dan ketakutan dari hati saya." Kecuali tubuhnya yang kian rampin, janggutnya yang panjang, kulitnya yang semakin bersih, dan sorot matanya yang dingin, tak ada yang berubah dari Imam Samudra sejak dia di tertangkap beberapa bulan silam.
Di penjara yang jaraknya sekitar seribu kilometer dari kampung halamannya, Serang, Jawa Barat, itu dia mengaku rajin menulis surat untuk sang istri dan empat anaknya. "Saya membuat sejumlah wasiat untuk mereka."
Dengan ganjaran hukuman mati dari majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar, Imam Samudra, yang dianggap sebagai arsitek aksi bom Bali, kini menghitung hari sembari menulis sebuah buku memoar.
Tampaknya, Imam Samudra alias Abdul Aziz siap menerima resiko dari jalan kekerasan yang dipilihnya. "Ini hukum penguasa kafir, harus terus dilawan," ujarnya dingin. Dia bahkan menyebut vonis mati atas dirinya justru sia-sia. Perjuangan kelompoknya, kata dia, akan terus maju. "Ini cuma setitik debu bagi para mujahid yang sedang berjuang di luar," ujarnya. Lalu kapan aksi mereka akan berakhir? Berikut ini petikan wawancara TEMPO dengan bekas mahasiswa kimia di Institut Teknologi Malaya itu.
Mengapa Anda memilih jalan perjuangan seperti sekarang ini?
Awalnya saya membaca buku Allah Turun di Afghanistan. Isinya tentang para syuhada di Afghanistan. Ada yang digilas tank, tapi tak mati, mungkin karena belum waktunya. Ada juga kisah dari makam para syuhada, setiap Senin dan Kamis, terdengar orang bertakbir. Atau soal pasukan mujahidin yang terkurung di satu bukit, tanpa makanan sama sekali. Tiba-tiba, ada helikopter yang menerjunkan makanan bagi tentara Rusia, yang juga terkurung di bagian bukit yang lain. Tapi dengan takdir Allah, justru makanan itu jatuh di tempat mujahidin. Kisah seperti itu yang membuat saya tertarik. Banyak riwayat, tentunya yang shahih, fadhilah, atau keutamaan para syuhada. Dikatakan, begitu darah pertama tertumpah ke bumi, segala dosanya diampunkan. Belum lagi jasadnya jatuh, sudah disambut oleh bidadari, yang wanginya itu melebihi dunia dengan segala isinya. Sesaat sebelum dia terluka, telah ditentukan tempatnya di surga. Makanya, dengan keyakinan itu, orang saya itu tak pernah mundur.
Kapan Anda membaca buku itu?
Saya membaca buku itu sewaktu duduk di kelas 2 SMP. Saya dapat dari sepupu saya, yang juga syahid di Afghanistan. Namanya Ahmad Sobari. Saya pun tertarik untuk ke Afghanistan. Doa saya terkabul. Saya ke Afghanistan pada 1990.
Apa yang Anda dapatkan di sana?
Fikrah. Di sana, saya mendapat banyak perubahan cara berpikir. Dulu, saya sangat senang dengan ajaran Syiah, Mu'tazilah, dan lain-lain yang menggunakan logika sebagai dasar. Dulu, sekalipun hadits itu shahih, jika bertentangan dengan logika, akan saya tolak.
Itu sebelum ke Afghanistan?
Ya, sebelum ke Afghanistan. Saya bahkan masih mengagumi Amien Rais (mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah --Red.) dan lain sebagainya itu. Setelaah saya mengerti, itu semua saya masukkan ke tong sampah sekarang.
Pengalaman apa yang paling membekas?
Saya bertemu dengan orang yang paling dibenci oleh Amerika Serikat, seperti Syekh Abdurrasul Sayyaf (salah satu panglima mujahidin di Afghanistan). Walau paling dibenci Amerika, dia adalah orang nomor wahid di Afghanistan. Saya terkesima, tapi bukan tersihir. Saya banyak mendapat kebenaran dari dia. Selain itu, banyak juga kawan yang berasal dari Arab. Mereka mengarahkan saya kepada fikrah yang sebenarnya.
Pikiran baru itu langsung Anda terima?
Sebenarnya waktu itu masih ada clash, benturan, di batin saya. Misalnya, waktu itu, saya masih menganggap fikrah (pikiran) jihad itu adalah dakwah. Jadi, ada konflik berat. Tapi waktu itu, saya membaca sebuah hadits, dan ini juga hadits shahih, bahwa yang terberat itulah yang terbenar. Dan itu pasti dibenci oleh orang-orang kafir. Jadi, saya mulai masuk ke dalam mazhab salafus sholeh (mazhab yang berupaya memurnikan kembali ajaran Quran dan hadits, salah satunya dengan cara mengikuti cara hidup Nabi Muhammad --Red.)
Di Afghanistan, Anda juga latihan militer?
Secara fisik, katakanlah, memang ada proses militerisasi. Dalam arti dengan jalan Islami, tidak bercampur dengan teori-teori kafir yang lazimnya boleh langsung tampar jika ada yang salah, atau ditelanjangi. Kami tak seperti itu. Jadi, betul-betul dengan metode on to the heart, masuk ke dalam hati betul. Yang salah paling disuruh baca Al-Quran atau baca hadits, atau hukumannya hanya push up dan lari. Kelihatannya itu memang sepele, tapi itu bisa menyentuh hati.
Kalau jadwal latihan harian?
Tergantung kondisi. Kalau lagi perang, latihan kan tak bisa. Situasional sekali. Tapi kita selalu waspada, alert. Itu wajib.
Pasti Anda punya pengalaman bertempur juga?

Ada. Tapi saya khawatir membatalkan amal saya, jadi tak usah diceritakan.
Berapa lama di Afghanistan?

Intensifnya berpindah-pindah. Saya berada di sana selama tiga tahun.
Lalu mengapa sekarang berjuang dengan aksi teror bom?
(Sebutan teror bom) itu propaganda orang kafir. Mereka paling tahu cara membungkam Islam. Memang, dalam perang seperti itu, selalu ada propaganda melemahkan lawan. Kita sampai menyebut itu teroris karena ayat dalam Al-Quran yang berbunyi "sampai mereka merasa takut" diterjemahkan Al-Quran versi Inggris oleh Yusuf Ali sebagai to terrorized, bukan to be afraid. Siapa yang harus dibuat takut? Tak lain musuh Allah, musuh Islam.

Tampaknya Anda sangat terpengaruh dengan konflik di Afghanistan dan juga mungkin di Palestina. Apakah Anda akan berhenti kalau konflik itu selesai?
Saya menjawab ini dengan mengutip firman Allah Swt., "Dan perangilah mereka sampai tak ada fitnah." Hanya ada satu jalan, yaitu jihad. Ada tafsir dari Ibnu Katsir soal fitnah itu. Pertama, kemusyrikan. Kedua, tidak menegakkan hukum Allah. Jadi, untuk mengeliminasi fitnah itu, hanya ada satu cara, dengan jihad. Bukan dengan pemilihan umum, bukan dengan demokrasi. Itu konsep Barat dan yang sekarang menjadi dien atau agama baru. Lalu banyak umat Islam sekarang yang pengecut. Mereka menyembunyikan hadits shahih. Dalam satu hadits yang diriwayatkan Bukhari-Muslim disebutkan, "Aku diutus oleh Allah menjelang hari kiamat dengan membawa pedang." Itu hadits shahih.
Seandainya persoalan umat Islam lebih mendapat perhatian, apakah akan terus menjalankan jihad?
Bukan soal perhatian atau simpati. Kamu hanya menjalankan kewajiban syar'i, kewajiban syariat, hanya dengan satu jalan: jihad fisabilillah.
Tapi aksi teror bom itu kan tidak populer?
Ya, memang seperti itu. Saya beri contoh, ada satu pendakwah Islam yang sangat populer sekarang dan disukai oleh semua agama. Saya tertawa. Itu something wrong. Coba kita lihat Muhammad sebelum mendapatkan kenabiannya. Semua orang suka kepadanya dan dia dijuluki "Al-Amin". Dari kaum Quraisy sampai Yahudi pun suka dengan dia. Tapi, begitu risalah kenabian datang, namanya berubah menjadi "Al-Majnun". Dibilang orang gila, dibilang tukang sihir, memecah belah persatuan. Jadi, memang seperti itu. Pasti dicela dan dimaki. Seperti firman Allah Swt., "Dia mengutus kamu Muhammad dengan hidayah, untuk dimenangkan, walaupun orang kafir membenci." Jadi, kebencian itu adalah satu konstanta. Jadi, kalau tak dibenci orang kafir, ya, artinya belum sampai ke tahap itu.

Ganjaran aksi terorisme adalah hukuman mati?

Hukuman mati tak akan menyelesaikan persoalan. Ini cuma setitik debu bagi para mujahid yang masih berjuang di luar. Saya jamin, persoalannya tak akan selesai. Demi Allah, tak akan selesai.
Anda sama sekali tak takut ancaman mati itu?
Alhamdulillah, Allah telah mencabut semua keraguan dan ketakutan di hati saya.